Follow Your Passion
Saya gemar menulis di blog. Sejak Mei 2015 terhitung ada 171 tulisan yang saya unggah di blog pribadi ini dengan url yang suka berubah sesuai kondisi dan situasi. Kebanyakan tulisan saya bercerita tentang keseharian saya yang jangankan orang lain, lha saya sendiri saja kadang malas membacanya lagi. Kegemaran ini sebenarnya sudah saya tekuni sejak SMP. Menulis pernah menjadi hobi saya, dan masih menjadi hobi saya sampai detik ini. Saya menulis apa saja, lebih sering menuliskan apa yang saya rasakan, bukan pikirkan. Semua ini karena kebiasaan menulis buku harian semasa kecil.
Saya sadar, kegiatan menulis berpotensi menghasilkan uang. Jika blog saya berkualitas saya bisa mendapatkan uang darinya. Ini bukan hanya bualan, bukti sudah banyak bertebaran. Lomba menulis selalu bertebaran setiap bulan, bahkan setiap minggu. Lomba itu diadakan oleh bermacam lembaga dengan hadiah yang bervariasi. Saya punya banyak buku di lemari dan internet pun lebih dari cukup dalam menyediakan bahan bacaan. Sudah menjadi hal lumrah apabila hobi bisa menghasilkan uang.
Tiga orang teman saya memiliki hobi yang bebeda. Yang pertama, hobi fotografi. Dia memang terkenal dan dikenal sangat menjiwai dunia itu. Bahkan lebih dari memotret, ia juga ahli dalam editing video. Sebuah keahlian yang banyak dicari orang. Kalau saya menduga, dia adalah orang yang tekun dan gigih. Awalnya iya tidak punya kamera, hanya lensanya saja dan sebuah kamera digital biasa. Ia belajar memotret dengan kamera pinjaman. Hasilnya ia sekarang punya nama. Skilnya sudah melekat dengan namanya. Dan memang hasil karyanya patut mendapat acungan jempol.
Saya jadi membayangkan teman saya itu menghabiskan sebagian waktunya untuk stalking website-website fotografi, membaca artikel-artikel tentang fotografi, mempelajari dan mencoba beragam teknik fotografi, melakukan trial and error dengan kameranya, dan terus mengutak-atik serta mengulik segala hal tentang fotografi. Dia manusia biasa, sama seperti saya, sama seperti Anda. Di balik satu karyanya yang mendapat banyak like di Instagram pasti ada banyak hasil jepretan yang blur, nggak fokus, maupun jepretan gagal macam lainnya. Dia pun ikut kontes atau lomba fotografi, menang kalah urusan belakang yang penting usaha dulu. Lagipula, semakin sering ia mengikuti lomba maka semakin sering pula ia mengasah skillnya. Saya salut dengan teman saya itu. Dengar-dengar dia sudah jadi fotografer berbayar untuk acara-acara. Keren!
Teman saya yang kedua adalah seorang seniman. Dia ini jago dalam hal musik. Dia bisa main gitar, main bass, main drum, main keyboard, itu sih yang saya tahu. Saya belum pernah melihat dia main sexophone. Dia punya band dan sudah sering tampil di mana-mana. Dia juga suka ikut lomba. Honor manggungnya denger-denger juga udah lumayan. Keren ya!
Seperti teman saya yang pertama, saya juga membayangkan dibalik pemainannya yang kece itu ada part-part di mana dia salah kunci, salah not, atau salah-salah yang lain. Dibalik suksesnya penampilan di atas panggung pasti ada berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu latihan di studio. Dia juga pasti banyak memperkaya wawasan musiknya. Hmm..
Teman saya yang ketiga adalah seorang yang hobinya bermain game. Anda tahu Dota2? Anda pasti tahu kompetisi Dota2. Saya tidak begitu paham mengenai permainan ini. Dalam bayangan saya, saya hanya membayangkan teman saya ini menghabiskan berjam-jam waktunya untuk bermain game di depan komputer. Tapi, bahkan dari hobi bermain game itu pun ia bisa menghasilkan uang dari hadiah memenangkan kompetisi.
Well, ketiga teman saya itu semuanya kebetulan pejantan. Supaya adil, saya akan menceritakan satu lagi teman saya yang perempuan yang menuai rupiah dari hobinya, Dia teman serumah saya. Ada satu aplikasi yang ia kuasai, CorelDraw. Dari situ ia membuat poster, Corel Art, dan masih banyak beragam coretan lagi. Hasill karyanya itupun bernilai jual. Keren bukan?
Semua cerita di atas memiliki kesamaan, yakni orang-orang yang mampu menghasilkan uang dari hobi. Lebih dalam lagi, mereka orang-orang yang mengikuti passion. Mereka melakukan apa yang mereka benar-benar suka, mereka mendalaminya, mereka fokus, mereka tidak berhenti belajar, mereka berkembang, dan mereka boleh lah dibilang expert. Mereka bukan orang-orang yang labil yang sekedar ikutan arus. Mereka bukan orang-orang latah yang nenteng-nenteng kamera SLR biar terlihat keren, atau ngeband asal ngeband biar dibilang keren, atau cuma ikutan tren main Dota2, ataupun sekedar gambar. Bukan, mereka justru orang-orang yang keren menurut saya. Mereka inilah orang-orang yang benar-benar hidup, alive.
Seseorang pernah berkata, "Kamu tidak perlu menjadi ahli dalam segala hal, cukup fokus dan tekuni satu hal yang benar-benar kau sukai lalu jadilah expert."
Mungkin ini yang disebut dengan jati diri. Semakin kita dewasa, kita bisa saja semakin bingung dengan arah hidup kita, tapi bukan berarti kita tidak bisa menemukannya, bukan? Saya sangat bersyukur bertemu orang-orang seperti mereka. Mereka benar-benar menginspirasi saya dan membuat saya belajar. Sekarang, saya jadi punya semangat untuk kembali berlari. Saya akan berlari untuk hal yang benar-benar saya suka: menulis.
Jika mereka saja bisa, alasan apa yang membuat saya tidak bisa? Mulai sekarang, saya akan mengembangkan tulisan saya lebih dari sekedar cerita harian. Ada banyak macam tulisan, ada artikel, ada essay, ada opini, ada review, ada cerpen, ada fiksi, ada puisi, dan masih banyak lagi yang bisa saya eksplor. Demikian halnya dengan EYD, tata bahasa, kaidah bahasa, format-format penulisan, saya punya banyak PR jika saya ingin tulisan saya bukan sekedar sampah. Sudah saatnya saya menjadi diri saya seutuhnya, bukan menjadi apa yang orang mau. Saya senang sekali dan saya sangat bersyukur hari ini.
Tidak masalah di mana saya kuliah saat ini. Keempat teman saya itu satu kampus bahkan satu kelas dengan saya. Mereka tetap menjalani kewajiban mereka sebagai mahasiswa tetapi mereka tidak kehilangan suluh kesenangan mereka. Kalau mereka bisa, berarti saya juga bisa.
Komentar