Rajin Vs Santai
Ada temenku yang rajinnya aampun-ampun. Banyak malah. Anak UGM kayaknya rajin-rajin emang. Aku punya temen, cewek, rajin banget. Kalo ujian gini belajarnya SKS sih tapi niat banget. Baca-baca slide, nyari-nyari tambahan materi, nanya-nanya ke temennya dengan cara ngechatin one-by-one, ngerjain soal tahun lalu, terus begitu masuk ruang ujian dia udah kayak ki joko bodo ngerapal mantra, semua materi apal banget, nyaris :o
Ada lagi temenku yang lain, cewek juga, kalo mau ujian dia bikin rangkuman di kertas HVS. Gila niat banget, dia bikin rangkumannya ditulis tangan padahal dan emang iya sih dia anaknya terorganisir banget. Cocok jadi manajer. Dia padahal bukan tipikal orang yang suka show off gitu. Dia juga bukan tipikal orang yang bakal ngacungkan tangan di tengah orang banyak buat buka suara. Dia anak yang diem. Iya, tapi diem-diem kerja. Mirip sama temenku yang pertama. Mereka berdua ini adalah tipe orang yang kalo punya deadline hari Jumat, hari Seninnya udah selesai.
Kata nyokap, "Kalo kerja, orang rajin bisa ngalahin orang pinter. Orang yang pinter tapi males, bisa kalah sama orang yang biasa aja tapi rajin."
Yaiyalah, bos mana yang nggak suka sama karyawan yang rajin, banyak bekerja sedikit bicara, dikasih kerjaan apa aja cepet beresnya, gercep lah. Pasti jadi anak buah kesayangan tuh.
Dan sebagai bos, meskipun kamu butuh karyawan yang pinter, tapi tentu aja nggak mau dong kalo karyawannya lebih pinter dari kamu yang notabene bosnya. Iyalah, kalo dia lebih pinter dari kamu mana mau kerja sama kamu.
Terus aku masuk yang mana? Entah..
Aku belajar juga, meskipun nggak serajin mereka.. sumpah mereka itu dewa banget! Aku pingin tau deh isi kepala mereka kenapa mereka bisa serajin itu. Hal apa yang mendasari mereka untuk bisa berlaku demikian. Apa motivasi terbesar mereka untuk bisa serajin itu dan segercep itu. Iya sih emang untungnya juga di mereka sendiri, tapi aku tetep penasaran. Kenapa sih mereka kok mau nurut-nurut aja sama perintah? Aku terlalu egois sih mungkin dan egosentris pula.
Mereka tuh, disuruh dosen ngerjain ini mau, disuruh asisten ngerjain laporan manut, disuruh kurikulum buat belajar ya ngikut, berasa lurus dan lempeng sekali hidup mereka. Aku yakin mereka pasti bukan orang yang mau ngambil resiko berupa IP yang jelek atau turun, dimarahin dosen, telat ngumpul tugas, pekerjaan yang nggak maksimal, atau nilai yang buruk. Bukan, mereka bukan tipikal seperti itu kurasa. Atau mereka belum pernah mengalami konsekuensi macam yang telah kusebutan itu?
Hidup ini memang memberikan kemerdekaan dan kebebasan untuk melakukan apapun, dan hidup juga adalah pilihan. Tentu saja setiap pilihan membawa konsekuensi logis. Konsekuensi logis dari tindakan gercep adalah tugas selesai di awal dengan maksimal dan rapi tanpa telat ngumpulin dan akan mendapat nilai yang baik. Konsekuensi dari santai adalah adalah ya tugas nggak rapi, si pemberi tugas nggak seneng, ngumpulin telat, pekerjaan nggak maksimal karena diburu waktu, dan berakhir pada nilai yang segitu-segitu aja. Secara logika, tentu opsi pertama lebih waras untuk dipilih daripada opsi kedua. Tapi, apakah jika seseorang memilih opsi kedua lantas ia disebut tidak waras?
Cara berpikir seseorang dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari latar belakang pendidikan, keluarga, pola asuh orang tua, teman-temannya siapa saja, lingkungan seperti apa tempat tinggalnya, buku apa yang ia baca, acara televisi seperti apa yang ia tonton, siapa saja orang yang ia temui, tempat mana saja yang ia singgahi, berapa uang yang ada di dompetnya, dan masih banyak lagi. Memang kompleks kalau bicara soal cara berpikir. Bisa sampai berlembar-lembar nantinya.
Ada orang yang santainya kebangetan. Mau ujian belajarnya santai banget, kalau pas ujian pun ada beberapa nomer yang ia nggak bisa ngerjakan pun ia akan tetap santai, dan jika memang nilainya tidak memuaskan-memuaskan amat ia akan tetap santai. Menurutmu kalau ada orang seperti ini enaknya diapain?
Ada lagi temenku yang lain, cewek juga, kalo mau ujian dia bikin rangkuman di kertas HVS. Gila niat banget, dia bikin rangkumannya ditulis tangan padahal dan emang iya sih dia anaknya terorganisir banget. Cocok jadi manajer. Dia padahal bukan tipikal orang yang suka show off gitu. Dia juga bukan tipikal orang yang bakal ngacungkan tangan di tengah orang banyak buat buka suara. Dia anak yang diem. Iya, tapi diem-diem kerja. Mirip sama temenku yang pertama. Mereka berdua ini adalah tipe orang yang kalo punya deadline hari Jumat, hari Seninnya udah selesai.
Kata nyokap, "Kalo kerja, orang rajin bisa ngalahin orang pinter. Orang yang pinter tapi males, bisa kalah sama orang yang biasa aja tapi rajin."
Yaiyalah, bos mana yang nggak suka sama karyawan yang rajin, banyak bekerja sedikit bicara, dikasih kerjaan apa aja cepet beresnya, gercep lah. Pasti jadi anak buah kesayangan tuh.
Dan sebagai bos, meskipun kamu butuh karyawan yang pinter, tapi tentu aja nggak mau dong kalo karyawannya lebih pinter dari kamu yang notabene bosnya. Iyalah, kalo dia lebih pinter dari kamu mana mau kerja sama kamu.
Terus aku masuk yang mana? Entah..
Aku belajar juga, meskipun nggak serajin mereka.. sumpah mereka itu dewa banget! Aku pingin tau deh isi kepala mereka kenapa mereka bisa serajin itu. Hal apa yang mendasari mereka untuk bisa berlaku demikian. Apa motivasi terbesar mereka untuk bisa serajin itu dan segercep itu. Iya sih emang untungnya juga di mereka sendiri, tapi aku tetep penasaran. Kenapa sih mereka kok mau nurut-nurut aja sama perintah? Aku terlalu egois sih mungkin dan egosentris pula.
Mereka tuh, disuruh dosen ngerjain ini mau, disuruh asisten ngerjain laporan manut, disuruh kurikulum buat belajar ya ngikut, berasa lurus dan lempeng sekali hidup mereka. Aku yakin mereka pasti bukan orang yang mau ngambil resiko berupa IP yang jelek atau turun, dimarahin dosen, telat ngumpul tugas, pekerjaan yang nggak maksimal, atau nilai yang buruk. Bukan, mereka bukan tipikal seperti itu kurasa. Atau mereka belum pernah mengalami konsekuensi macam yang telah kusebutan itu?
Hidup ini memang memberikan kemerdekaan dan kebebasan untuk melakukan apapun, dan hidup juga adalah pilihan. Tentu saja setiap pilihan membawa konsekuensi logis. Konsekuensi logis dari tindakan gercep adalah tugas selesai di awal dengan maksimal dan rapi tanpa telat ngumpulin dan akan mendapat nilai yang baik. Konsekuensi dari santai adalah adalah ya tugas nggak rapi, si pemberi tugas nggak seneng, ngumpulin telat, pekerjaan nggak maksimal karena diburu waktu, dan berakhir pada nilai yang segitu-segitu aja. Secara logika, tentu opsi pertama lebih waras untuk dipilih daripada opsi kedua. Tapi, apakah jika seseorang memilih opsi kedua lantas ia disebut tidak waras?
Cara berpikir seseorang dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari latar belakang pendidikan, keluarga, pola asuh orang tua, teman-temannya siapa saja, lingkungan seperti apa tempat tinggalnya, buku apa yang ia baca, acara televisi seperti apa yang ia tonton, siapa saja orang yang ia temui, tempat mana saja yang ia singgahi, berapa uang yang ada di dompetnya, dan masih banyak lagi. Memang kompleks kalau bicara soal cara berpikir. Bisa sampai berlembar-lembar nantinya.
Ada orang yang santainya kebangetan. Mau ujian belajarnya santai banget, kalau pas ujian pun ada beberapa nomer yang ia nggak bisa ngerjakan pun ia akan tetap santai, dan jika memang nilainya tidak memuaskan-memuaskan amat ia akan tetap santai. Menurutmu kalau ada orang seperti ini enaknya diapain?
Komentar