Receh
Dingin senantiasa mengikuti semenjak hujan terus-menerus mengguyur bumi. Aku membuka mata hari ini untuk menunaikan kewajiban dan kembali lagi dalam dekap selimut setelahnya. Berjam-jam kuhabiskan demi membayar lunas utang istirahat yang terampas pekan ini. Ini bukan minggu tenang untuk persiapan ujian. Ini adalah minggu penghabisan atas ketidakpastian praktikum. Ku tau ini jahat tapi ku tak ingin membuat kejahatan ini semakin berlanjut. Ku ingin segera terhenti dari perbuatan jahat ini sehingga saat ku nongkrong di sekitaran malioboro untuk memperhatikan orang lalu lalang aku tidak merasa berdosa.
Kamu tau aku ingin segera lepas dari jeratan benang-benang ini? Aku jengah dengan warna-warninya yang melilitku. Mereka melilit kakiku, membuatku tersandung. Mereka melilit tanganku, ku tak bisa bergerak bebas. Mereka melilit wajahku, ku urung berpaling. Mereka membuatku malas sekali.
Kamu tau apa yang aku mau? Aku mau melenggang santai di deretan pertokoan, nongrong di salah satu sudut kota, menyeruput cappucino, membaca barisan kata dalam suatu buku, mengamati orang berlalu-lalang, menikkmati jingganya senja, atau menyusuri deretan rak buku.
Dua kantong sampah itu sudah teronggok di situ sejak beberapa hari yang lalu. Sebuah wajan dan peralatan makan di rak cuci piring pun bernasib sama. Tak ada yang sudi menyentuhnya.
Keyboard ini kadang rusak kadang tidak. Pernah suatu ketika aku sedang di kampus hendak mengolah data dan beberapa tombol keyboard ini tak berfungsi. Lain waktu di saat aku hendak ngeblog ada huruf dan angka yang eror. Lalu aku ke toko komputer dan membeli keyboard portable tapi dia berfungsi lagi secara ajaib.
Aku punya banyak sekali deadline. Laporan, tugas, ujian, belum lagi yang lain-lain. Tapi, itu semua terasa receh. Sepertinya bukan hanya aku yang merasakan makin ke atas semesternya, rasanya makin receh saja. Bila menengok masa-masa semester satu rasanya seperti melihat orang lain.
Aku dulu sendiri, benar-benar sendiri. Aku dulu harus berjalan kaki lima belas menit untuk sampai di kampus. Kamar kos pertamaku dulu sempit, ukurannya mungkin dua meter lebih dikit kalo dua meter lebih dikit jadi kurang lebih empat meter lebi dikit. Aku dulu tak punya lemari. Awalnya aku meletakkan baju di koper dan di tas kasur yang dari plastik, lalu aku berinisiatif meletakkannya di dalam kardus bekas kertas HVS dan menyusunnya. Aku juga belum punya kasur, Aku dipinjami kasur gulung. Aku menggulungnya di kala siang dan menggelarnya jika hendak tidur. Ku masih ingat, ada rak di dinding yang kupakai untuk menaruh barang-barang. Ada juga sebuah meja kecil dan kursi. Ku belum punya rak sepatu, sepatu dan sandal kutata di depan kamar. Ku punya gantungan baju di balik pintu. Salah satu dindingnya ada bekas wall stiker dari penghuni sebelumnya yang sangat norak. Barang-barangku sangat sedikit. Ku belum punya smartphone, sehingga ku cukup kudet. Ku biasa membeli makan di burjo Aldy, warung makan nasi rames, atau nasi kuning kalau pagi. Hiburanku paling-paling hanya laptop dan radio. Waktu itu laptopku masih Acer yang berat itu. Ku mencuci baju di depan kamar mbak-mbak dan menjemurnya di dekat kamar mandi. Aku juga pernah berantakan. Aku juga suka bermain dan pulang sampai malam. Tapi, di tempat ini IP ku paling bagus :( dan ini membuatku sedih. Beberapa kali aku mencoba menyelidiki apa penyebabnya, tapi semakin ke sini IP ku tak pernah sebaik itu. Aku berpikir, apakah karena faktor kamarnya. Ataukah faktor lainnya. Saat itu ku hanya fokus kuliah. Aku meninggalkan bisnis yang cukup menjanjikan karena aku ingin kuliah dengan benar. Aku semangat dan pikiranku masih lurus. Aku sedih sekali melihat kenyataan bahwa semakin ke sini prestasi kuliahku semakin menurun. Aku bingung apa yang salah.
Lihat saja sekarang. Aku sangat malas, parah. Aku sudah tidak di ruangan empat meter persegi lebih sedikit. Kuberi tahu apa saja tugasku tapi kamu jangan tercengang ya, aku punya laporan TPI deadline besok jam 12 siang, aku punya tugas memperbaiki jaring deadline besok Senin, aku punya tugas ekotok deadline besok selasa, aku punya responsi besok tanggal 8, aku punya tugas usulan penelitian untuk tanggal 13, aku punya tugas stukel untuk tanggal 14, dan aku punya 5 laporan MSPa tidak pula responsinya tanggal 16. Aku juga masih punya cucian baju.
Tapi, kamu tahu atau tidak bahwa aku mulai merasa jengah dengan perkuliahan karena aku merasa semakin ke sini semakin apa ya... praktikum yang terkesan tidak profesional, dosen yang setiap semester selalu sama dengan cara mengajar yang sama pula. Bosan dengan kuliah di kelas yang slide oriented, kejar materi, atau ujian oriented, ingin kelas yang inspiratif. Belum semua mata kuliah ada bahan rujukan yang jelas. Sedih kalau packaging dari semua kegiatan mulia ini begitu receh.
Aku ingin kelas yang inspiratif, yang jika aku keluar dari kelas ada hal yang aku ingat tanpa perlu aku hafal. Kelas yang sarat akan nilai, yang bisa menyentuh ranah emosional. Bukan kelas yang membuat ngantuk, bosan, dan tidak peduli dengan yang disampaikan. Semua ilmu itu penting, semuanya menarik, semuanya keren, dan usahanya juga sudah maksimal (sebagian, semoga, think + saja lah). Lihat semester ini. Kelas Teknik Penangkapan Ikan mengajak kita untuk mengenal seluk beluk alat tangkap dan cara menggunakannya, bahkan juga cara merangkainya, bagaimana perhitungannya, dan juga dosennya semangat sekali. Kelas ekotoksikologi, materinya keren.. dosennya juga pinter. Metodologi penelitian, selalu ada hal menarik dari kelas DPA ku. Dari kelas ini juga aku jadi tahu bagaimana menulis karya ilmiah yang sesuai aturan. Kelas MSPa, sejujurnya materi ini sangat penting, tapi aku sedikit kurang mendapatkan chemistrynya. Aku masih belum paham sejujurnya bagaimana cara mengelola suatu perairan. Aku merasa kelas ini tidak jauh berbeda dengan kelas biologi laut. Kelas DPKP, setengah semester pertama aku banyak dapat ilmu tentang komunikasi dan setengah semester berikutnya aku dapat ilmu dari orang yang hobinya melanglang buana. Kelas Agama di Jumat pagi, ku rasa menjadi kelas yang paling inspiratif dengan dosen yang jauh dari prediksi dan kesan-kesan yang aku dapat selama satu semester, meskipun tak jarang juga aku terkantuk-kantuk bahkan tertidur.
Semakin ke atas, semakin malas praktikum. Aku merasa praktikum semakin receh, dan entah mengapa aku tidak cukup rajin dan respect menuruti maunya asisten. Beberapa dari mereka ada yang menyebalkan ._. Aku belum pernah mensurvei ke-48 teman yang satu prodi denganku. Apakah mereka juga dilingkupi perasaan malas seperti ini dan juga pikiran receh macam pikiranku ini.
Untuk para pembaca, mohon maaf jika blog ini isinya sangat receh. Karena mungkin memang hidupku ini terlampau receh.
Kamu tau aku ingin segera lepas dari jeratan benang-benang ini? Aku jengah dengan warna-warninya yang melilitku. Mereka melilit kakiku, membuatku tersandung. Mereka melilit tanganku, ku tak bisa bergerak bebas. Mereka melilit wajahku, ku urung berpaling. Mereka membuatku malas sekali.
Kamu tau apa yang aku mau? Aku mau melenggang santai di deretan pertokoan, nongrong di salah satu sudut kota, menyeruput cappucino, membaca barisan kata dalam suatu buku, mengamati orang berlalu-lalang, menikkmati jingganya senja, atau menyusuri deretan rak buku.
Dua kantong sampah itu sudah teronggok di situ sejak beberapa hari yang lalu. Sebuah wajan dan peralatan makan di rak cuci piring pun bernasib sama. Tak ada yang sudi menyentuhnya.
Keyboard ini kadang rusak kadang tidak. Pernah suatu ketika aku sedang di kampus hendak mengolah data dan beberapa tombol keyboard ini tak berfungsi. Lain waktu di saat aku hendak ngeblog ada huruf dan angka yang eror. Lalu aku ke toko komputer dan membeli keyboard portable tapi dia berfungsi lagi secara ajaib.
Aku punya banyak sekali deadline. Laporan, tugas, ujian, belum lagi yang lain-lain. Tapi, itu semua terasa receh. Sepertinya bukan hanya aku yang merasakan makin ke atas semesternya, rasanya makin receh saja. Bila menengok masa-masa semester satu rasanya seperti melihat orang lain.
Aku dulu sendiri, benar-benar sendiri. Aku dulu harus berjalan kaki lima belas menit untuk sampai di kampus. Kamar kos pertamaku dulu sempit, ukurannya mungkin dua meter lebih dikit kalo dua meter lebih dikit jadi kurang lebih empat meter lebi dikit. Aku dulu tak punya lemari. Awalnya aku meletakkan baju di koper dan di tas kasur yang dari plastik, lalu aku berinisiatif meletakkannya di dalam kardus bekas kertas HVS dan menyusunnya. Aku juga belum punya kasur, Aku dipinjami kasur gulung. Aku menggulungnya di kala siang dan menggelarnya jika hendak tidur. Ku masih ingat, ada rak di dinding yang kupakai untuk menaruh barang-barang. Ada juga sebuah meja kecil dan kursi. Ku belum punya rak sepatu, sepatu dan sandal kutata di depan kamar. Ku punya gantungan baju di balik pintu. Salah satu dindingnya ada bekas wall stiker dari penghuni sebelumnya yang sangat norak. Barang-barangku sangat sedikit. Ku belum punya smartphone, sehingga ku cukup kudet. Ku biasa membeli makan di burjo Aldy, warung makan nasi rames, atau nasi kuning kalau pagi. Hiburanku paling-paling hanya laptop dan radio. Waktu itu laptopku masih Acer yang berat itu. Ku mencuci baju di depan kamar mbak-mbak dan menjemurnya di dekat kamar mandi. Aku juga pernah berantakan. Aku juga suka bermain dan pulang sampai malam. Tapi, di tempat ini IP ku paling bagus :( dan ini membuatku sedih. Beberapa kali aku mencoba menyelidiki apa penyebabnya, tapi semakin ke sini IP ku tak pernah sebaik itu. Aku berpikir, apakah karena faktor kamarnya. Ataukah faktor lainnya. Saat itu ku hanya fokus kuliah. Aku meninggalkan bisnis yang cukup menjanjikan karena aku ingin kuliah dengan benar. Aku semangat dan pikiranku masih lurus. Aku sedih sekali melihat kenyataan bahwa semakin ke sini prestasi kuliahku semakin menurun. Aku bingung apa yang salah.
Lihat saja sekarang. Aku sangat malas, parah. Aku sudah tidak di ruangan empat meter persegi lebih sedikit. Kuberi tahu apa saja tugasku tapi kamu jangan tercengang ya, aku punya laporan TPI deadline besok jam 12 siang, aku punya tugas memperbaiki jaring deadline besok Senin, aku punya tugas ekotok deadline besok selasa, aku punya responsi besok tanggal 8, aku punya tugas usulan penelitian untuk tanggal 13, aku punya tugas stukel untuk tanggal 14, dan aku punya 5 laporan MSPa tidak pula responsinya tanggal 16. Aku juga masih punya cucian baju.
Tapi, kamu tahu atau tidak bahwa aku mulai merasa jengah dengan perkuliahan karena aku merasa semakin ke sini semakin apa ya... praktikum yang terkesan tidak profesional, dosen yang setiap semester selalu sama dengan cara mengajar yang sama pula. Bosan dengan kuliah di kelas yang slide oriented, kejar materi, atau ujian oriented, ingin kelas yang inspiratif. Belum semua mata kuliah ada bahan rujukan yang jelas. Sedih kalau packaging dari semua kegiatan mulia ini begitu receh.
Aku ingin kelas yang inspiratif, yang jika aku keluar dari kelas ada hal yang aku ingat tanpa perlu aku hafal. Kelas yang sarat akan nilai, yang bisa menyentuh ranah emosional. Bukan kelas yang membuat ngantuk, bosan, dan tidak peduli dengan yang disampaikan. Semua ilmu itu penting, semuanya menarik, semuanya keren, dan usahanya juga sudah maksimal (sebagian, semoga, think + saja lah). Lihat semester ini. Kelas Teknik Penangkapan Ikan mengajak kita untuk mengenal seluk beluk alat tangkap dan cara menggunakannya, bahkan juga cara merangkainya, bagaimana perhitungannya, dan juga dosennya semangat sekali. Kelas ekotoksikologi, materinya keren.. dosennya juga pinter. Metodologi penelitian, selalu ada hal menarik dari kelas DPA ku. Dari kelas ini juga aku jadi tahu bagaimana menulis karya ilmiah yang sesuai aturan. Kelas MSPa, sejujurnya materi ini sangat penting, tapi aku sedikit kurang mendapatkan chemistrynya. Aku masih belum paham sejujurnya bagaimana cara mengelola suatu perairan. Aku merasa kelas ini tidak jauh berbeda dengan kelas biologi laut. Kelas DPKP, setengah semester pertama aku banyak dapat ilmu tentang komunikasi dan setengah semester berikutnya aku dapat ilmu dari orang yang hobinya melanglang buana. Kelas Agama di Jumat pagi, ku rasa menjadi kelas yang paling inspiratif dengan dosen yang jauh dari prediksi dan kesan-kesan yang aku dapat selama satu semester, meskipun tak jarang juga aku terkantuk-kantuk bahkan tertidur.
Semakin ke atas, semakin malas praktikum. Aku merasa praktikum semakin receh, dan entah mengapa aku tidak cukup rajin dan respect menuruti maunya asisten. Beberapa dari mereka ada yang menyebalkan ._. Aku belum pernah mensurvei ke-48 teman yang satu prodi denganku. Apakah mereka juga dilingkupi perasaan malas seperti ini dan juga pikiran receh macam pikiranku ini.
Untuk para pembaca, mohon maaf jika blog ini isinya sangat receh. Karena mungkin memang hidupku ini terlampau receh.
Komentar