Review Konferensi Sufisme Internasional bertajuk Building Love and Peace for Indonesian Society “Rahmatan lilalamin”
Manusia adalah makhluk spiritual yang terpenjara dalam alam material. Manusia adalah ciptaan yang luar bisaa. Allah menciptakan seluruh alam semesta untuk menciptakan manusia. Manusia adalah ekstrak alam semesta. Bagian tubuh manusia bagaikan cerminan alam semesta. Rambutnya adalah hutan, rambut halusnya adalah rerumputan, keceriaannya adalah rembulan, dan aliran darahnya adalah sungai yang bermuara di jantung.
Pada waktu manusia hendak diciptakan, malaikat protes kepada Tuhan. Hal ini karena malaikat tidak paham hakikat penciptaan manusia. Malaikat hanya bersifat parsial dari sifat Tuhannya. Misalnya saja malaikat Izrail yang hanya bisa mencabut nyawa, malaikat Malik yang hanya menjaga neraka, atau malaikat Jibril yang memberi pengetahuan. Akan tetapi, manusia adalah ringkasan dari semua nama Allah. Manusia mampu mencabut nyawa (membunuh), mampu memberikan pengetahuan layaknya Jibril, dan sebagainya. Oleh karena itu, malaikat diperintahkan untuk sujud kepada manusia.
Sufi menggambarkan manusia sebagai jantung alam. Perlu disadari bahwa manusia bukan hanya butiran debu. Manusia adalah jejak Tuhannya. Tasawuf menjawab problem manusia modern untuk menciptakan kedamaian. Manusia modern adalah manusia-manusia yang kering dan dahaga akan siraman rohani. Solusi dari permasalahan itu adalah Tasawuf.
Jumat, 18 November 2016 telah dilangsungkan konferensi Sufisme Internasional bertajuk Building Love and Peace for Indonesian Society “Rahmatan lilalamin” di ruang Persatuan, lantai 3, Gedung Notonegoro, Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarka. Konferensi ini dipandu oleh Bapak Farid Mustofa selaku moderator. Beliau adalah dosen Fakultas Filsafat UGM. Adapun pematerinya adalah KH Dhiauddin Quswandi Azmatkhan (Pimpinan Rabithah Azmatkhan, Muesyid Tariqa Syatariah dan Akmaliah, tariqa Tasawuf Nusantara Walisanga), Prof Syukri Abdullah Yeoh (Professor at Atma UKM Akademi Tamadun Melayu Univeritas kebangsaan Malaysia), Syeikh Rohimuddin al-Nawawi al-Bantani (Head of KUN - Kerukunan Ulama Nusantara, Khalifah Tariqah Syadziliyah-Darqawiya and Tariqah Qadiriyah and Guru Besar Babad Kesultanan Banten), dan Prof Dr. Ali Mishbah.
Pemateri 1 : KH Dhiauddin Quswandi Azmatkhan
Sufisme adalah sisi batin dan rohani dalam islam. Islam mengenal istilah mistik yang artinya hidup seolah-olah seperti Hadits. Pembicara pertama menguraikan tentang kedudukan agama bagi dunia bagaikan kedudukan ruh pada jasad. Jantung agama adalah cinta kepada Allah dan makhluk-Nya. Jika saja beriman hanya sekadar percaya, maka iblis pun percaya kepada Allah. Di dalam Al-Quran surah Al-Baqarah 165, dikatakan bahwa orang yang beriman sangatlah cinta kepada Allah, dan ini yang menjadi perbedaan antara orang yang beriman dengan orang yang kafir.
Fungsi agama di dalam hidup adalah untuk mengintegrasikan manusia dengan Tuhan maupun manusia dengan sesama. Namun, oleh orang Baduy Arab agama dianggap sebagai kotak yang menyebabkan fragmentasi dan disintegrasi. Hal ini menyebabkan problem kemanusiaan. Basis dari Tasawuf adalah cinta kepada Allah. Dalam pandangan Sufi, cinta bukanlah bersifat aqliah, parsial, maupun barter. Cinta kepada Allah ialah cinta tanpa syarat yang tidak mempedulikan apakah Allah memberi rizqi atau musibah. Apapun kondisinya, hanya terlantun pujian-pujian kepada Allah. Allah bersifat Jalal dan Jamal yang artinya indah dan perkasa. Jika terdapat perasaan jengkel terhadap Allah maka cinta itu adalah cinta yang barter dan perhitungan. Cinta kepada Allah yang tanpa syarat akan membuat manusia mencintai seluruh makhluk ciptaan Allah. Analoginya seperti cinta kepada pelukis, jika sudah jatuh cinta kepada seorang pelukis secara otomatis juga akan mencintai lukisan-lukisan yang dihasilkan oleh pelukis tersebut.
Indonesia mengenal Toriqot Syatonil Akmaliah. Pada era-era menjelang kemerdekaan, toriqot ini disampaikan secara sembunyi-sembunyi karena diburu oleh Belanda. Dalam bahasa Jawa, secara sembunyi-sembunyi disebut dengan “dlenik-dlenik” yang pada perkembangannya disebut dengan klenik. Hal ini karena penyebaran toriqot disampaikan di tempat-tempat terpencil semacam hutan, gunung, dan daerah-daerah pelosok. Hingga saat ini, istilah klenik justru identik dengan aksi perdukunan. Padahal, pada mulanya aksi ini merupakan aksi penyebaran toriqot yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Pertanyaan “Siapakah aku ini?” menjadi salah satu dasar dalam mendalami toriqot ini. ‘Aku’ yang universal bukanlah ‘aku’ dalam penegrtian sekadar jasad saja. Karena jika ‘aku’ hanyalah terbatas pada jasad maka ‘aku’ yang dulunya kecil bukanlah ‘aku’ yang sekarang sudah besar. Maka, terdapat empat pendekatan filosofis untuk memahami ‘aku’, yaitu:
1)Nanding saliro, merupakan tingkatan terendah. Pada tahap ini hanya membandingkan antara ‘aku’ dengan orang lain.
2)Ngukur saliro. Tahap ini sudah setingkat di atas nanding saliro. Pada tahap ini, upaya membandingkan ‘aku’ dengan orang lain memiliki tujuan untuk evaluasi diri sebagai pribadi.
3)Tepo saliro. Pada tahap ini ‘aku’ memposisikan orang lain sebagimana dirinya. Misalnya apabila ‘aku’ tidak mau dicubit maka orang lain pun tidak mau dicubit. Tepo saliro mengajarkan manusia untuk saling menghargai satu sama lain.
4)Muki saliro. Tahap ini merupakan tahapan yang tertinggi bila dibandingan dengan tiga tahap yang lainnya. Pada tahap ini, ‘aku’ memandang semua makhluk adalah ‘aku’ dan ‘aku’ adalah kamu. Pada tahapan yang seperti ini akan minim sekali terjadi kejahatan antar makhluk.
Cinta adalah rasa. Cinta terdiri atas cinta jasmani, cinta nafsani, dan cinta ruhani. Cinta jasmani adalah cinta karena wujud fisik yang bisa dirasakan oleh indera, misalnya halus dan kasar yang dirasakan oleh kulit. Cinta nafsani merupakan cinta yang berupa emosi, misalnya cinta, benci ataupun puas. Cinta ruhani adalah tingkatan cinta yang tertinggi, terdiri atas qalb, fud, lub, dan syir. Syir adalah tingkatan tertinggi dari yang tertinggi.
Hidup matinya sebuah hati dapat dirasakan. Disebutkan dalam Al-Quran surah Al-Anfal ayat 124 bahwa “Hai orang-orang yang beriman penuhilah panggilan Allah dan Rasulmu ketika Allah dan Rasulmu memanggil kepada yang membuatmu hidup”. Rasa sejati yang dimiliki oleh hati ialah perasaan damai. Adapun tanda bahwa hati itu hidup ialah adanya cinta tanpa syarat, cinta yang tidak pernah terselipkan perasaan jengkel terhadap yang dicintainya. Apabila lubuk hati telah hidup, maka kehadiran Tuhan dapat dirasakan. Sebuah kalimat berbahasa Jawa, “Aku iki urip, urip iki aku” menjadi salah satu tanda syirnya hidup. Kalimat tersebut bersifat universal. Cara mencintai secara universal adalah dengan kontemplasi diri dan mengenali diri sendiri.
Ada sebuah analogi antara dzikir dengan napas. Mereka mempunyai kedudukan yang sama. Napas merupakan penghubung antara jasad dengan roh, adapun dzikir merupakan penghubung antara manusia dengan Tuhan. Sehingga manusia yang tidak berdzikir seperti jasad yang tidak bernapas, alias mati.
Pemateri 2 : Syeikh Rohimuddin al-Nawawi al-Bantani
Pemateri kedua pada acara konferensi ini, memaparkan soal “Peran Ulama Tarekat dalam Membangun Cinta”. Pendidikan tasawuf selama ini terdapat dua macam. Para dai masuk ke Indonesia dibawa oleh sufi. Sedangkan pendekatan orang sufi itu sendiri ada dua, yaitu:
1)Ilmu Ilahi/Hakiki
2)Faidiyah, yang artinya memberikan warisan/limpahan
Definisi tarekat secara umum adalah madrasah yang dipimpin oleh seorang sufi ulama tarekat untuk membawa manusia sampai kepada tujuan hidupnya, yakni mengenal penciptanya. Ada dua pendekatan tarekat, yaitu pendekatan magrib dan masyrik. Inti dari pendekatan magrib adalah tarekat Jabaniyah. Adapun kedudukan tarekat dalam Islam sebagai bagian dari risalah Islam yaitu sebagai ruhnya.
Rukun Islam merupakan cara penunaian agama yang benar. Orang-orang tasawuf magrib menjelaskan ajarannya bahwa manusia ini adalah terjemahan dari Allah. Allah menciptakan dengan kasih sayang dan manusia adalah patung Allah yang tidak boleh disakiti maupun dianiaya.
Pada jaman dahulu, orang-orang berguru pada seorang guru. Orang itu hidup dan tinggal bersama gurunya dan melakukan apapun yang diperintahkan oleh gurunya. Bahkan perintah-perintah untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti membuat teh dan mencuci pakaian. Akan tetapi, output dari pendidikan semacam ini justru lebih berhasil dengan lahirnya murid-murid yang menguasai kemampuan sang guru. Hal ini karena karakter dapat diwariskan. Apabila sang guru tidak mempunyai karakter tersebut, maka tidak ada yang bisa diwariskan.
Pemateri ketiga: Prof Syukri Abdullah Yeoh
Prof Syukri Abdullah Yeoh menjabarkan soal penyebaran Islam di Nusantara. Pemaparan materi dimulai dengan penjelasan mengenai kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Nusantara. Adapun kerajaan itu meliputi kerajaan Kutai Kertanegara, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, hingga kerajaan Perlak. Islam dibawa dari tanah Arab oleh saudagar-saudagar yang menjajakan dagangannya ke Nusantara. Interaksi dengan raja-raja saat itu menghasilkan hubungan yang baik. Tak ayal terjadi pula perkawinan campuran diantara pribumi dengan pedagang-pedagang. Beberapa peninggalan sejarah tersebut antara lain ditemukannya prasasti-prasasti dan sisa-sisa puing bangunan kerajaan.
Pemateri keempat: Prof Dr. Ali Mishbah
Prof Dr. Ali Mishbah berasal dari Persia. Beliau berbicara menggunakan bahasaPersia, sehingga dalam konferensi ini dibantu oleh seorang penerjemah yang menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Prof Dr. Ali Mishbah membahas soal Irfan yang berasal dari kata Arafa yang dalam bahasa Arab artinya mengetahui atau mengenal kepada Allah SWT. Pengenalan kepada Tuhan melalui argumentasi tidak bisa disebut irfan, melainkan pengenalan ini dapat dicapai mengenai jalan zuhud. Jalan ini merupakan jalan yang paling dekat untuk mengenal Tuhan (jalan ruhaniah).
Puncak mengenali Tuhan melalui jalan ini adalah memahami Tuhan seutuhnya. Hal ini merupakan fitrah manusia untuk mengenali Tuhan melalui ciptaan-Nya. Manusia mencari Tuhan, namun jalannya keliru. Akibat dari hal ini ialah munculnya aksi-aksi radikal. Misalnya saja pada zaman primitif, karena minimnya pemahaman manusia maka manusia menyembah berhala. Dorongan untuk beribadah ini sudah baik, akan tetapi cara untuk memenuhi dorongan ini masih keliru. Kemudian, Allah menurunkan Islam melalui Rasulullah sebagai jalan lengkap supaya manusia bisa mengenal Tuhannya. Proses pengenalan Tuhan ini dilakukan dengan jalan ibadah.
Secara umum, tema konferensi ini menarik. Dapat dikatakan materi sufisme ini cukup berat. Sufisme tidak sama dengan kuliah tujuh menit ataupun ceramah-ceramah yang mengajak kepada kebaikan. Materi sufisme ini cocok diberikan untuk kaum-kaum terpelajar. Karena untuk dapat memahami sufisme diperlukan dasar agama yang cukup. Bahasan sufisme bukanlah bahasan seperti larangan pacaran, perintah berhijab, atau seruan berbakti kepada orang tua. Pemaparan materi sufisme ini merupakan salah satu jalan untuk mengajak audiens berpikir. Namun, sudah merupakan upaya yang tepat untuk mempopulerkan istilah sufisme ke ranah publik.
Pada waktu manusia hendak diciptakan, malaikat protes kepada Tuhan. Hal ini karena malaikat tidak paham hakikat penciptaan manusia. Malaikat hanya bersifat parsial dari sifat Tuhannya. Misalnya saja malaikat Izrail yang hanya bisa mencabut nyawa, malaikat Malik yang hanya menjaga neraka, atau malaikat Jibril yang memberi pengetahuan. Akan tetapi, manusia adalah ringkasan dari semua nama Allah. Manusia mampu mencabut nyawa (membunuh), mampu memberikan pengetahuan layaknya Jibril, dan sebagainya. Oleh karena itu, malaikat diperintahkan untuk sujud kepada manusia.
Sufi menggambarkan manusia sebagai jantung alam. Perlu disadari bahwa manusia bukan hanya butiran debu. Manusia adalah jejak Tuhannya. Tasawuf menjawab problem manusia modern untuk menciptakan kedamaian. Manusia modern adalah manusia-manusia yang kering dan dahaga akan siraman rohani. Solusi dari permasalahan itu adalah Tasawuf.
Jumat, 18 November 2016 telah dilangsungkan konferensi Sufisme Internasional bertajuk Building Love and Peace for Indonesian Society “Rahmatan lilalamin” di ruang Persatuan, lantai 3, Gedung Notonegoro, Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarka. Konferensi ini dipandu oleh Bapak Farid Mustofa selaku moderator. Beliau adalah dosen Fakultas Filsafat UGM. Adapun pematerinya adalah KH Dhiauddin Quswandi Azmatkhan (Pimpinan Rabithah Azmatkhan, Muesyid Tariqa Syatariah dan Akmaliah, tariqa Tasawuf Nusantara Walisanga), Prof Syukri Abdullah Yeoh (Professor at Atma UKM Akademi Tamadun Melayu Univeritas kebangsaan Malaysia), Syeikh Rohimuddin al-Nawawi al-Bantani (Head of KUN - Kerukunan Ulama Nusantara, Khalifah Tariqah Syadziliyah-Darqawiya and Tariqah Qadiriyah and Guru Besar Babad Kesultanan Banten), dan Prof Dr. Ali Mishbah.
Pemateri 1 : KH Dhiauddin Quswandi Azmatkhan
Sufisme adalah sisi batin dan rohani dalam islam. Islam mengenal istilah mistik yang artinya hidup seolah-olah seperti Hadits. Pembicara pertama menguraikan tentang kedudukan agama bagi dunia bagaikan kedudukan ruh pada jasad. Jantung agama adalah cinta kepada Allah dan makhluk-Nya. Jika saja beriman hanya sekadar percaya, maka iblis pun percaya kepada Allah. Di dalam Al-Quran surah Al-Baqarah 165, dikatakan bahwa orang yang beriman sangatlah cinta kepada Allah, dan ini yang menjadi perbedaan antara orang yang beriman dengan orang yang kafir.
Fungsi agama di dalam hidup adalah untuk mengintegrasikan manusia dengan Tuhan maupun manusia dengan sesama. Namun, oleh orang Baduy Arab agama dianggap sebagai kotak yang menyebabkan fragmentasi dan disintegrasi. Hal ini menyebabkan problem kemanusiaan. Basis dari Tasawuf adalah cinta kepada Allah. Dalam pandangan Sufi, cinta bukanlah bersifat aqliah, parsial, maupun barter. Cinta kepada Allah ialah cinta tanpa syarat yang tidak mempedulikan apakah Allah memberi rizqi atau musibah. Apapun kondisinya, hanya terlantun pujian-pujian kepada Allah. Allah bersifat Jalal dan Jamal yang artinya indah dan perkasa. Jika terdapat perasaan jengkel terhadap Allah maka cinta itu adalah cinta yang barter dan perhitungan. Cinta kepada Allah yang tanpa syarat akan membuat manusia mencintai seluruh makhluk ciptaan Allah. Analoginya seperti cinta kepada pelukis, jika sudah jatuh cinta kepada seorang pelukis secara otomatis juga akan mencintai lukisan-lukisan yang dihasilkan oleh pelukis tersebut.
Indonesia mengenal Toriqot Syatonil Akmaliah. Pada era-era menjelang kemerdekaan, toriqot ini disampaikan secara sembunyi-sembunyi karena diburu oleh Belanda. Dalam bahasa Jawa, secara sembunyi-sembunyi disebut dengan “dlenik-dlenik” yang pada perkembangannya disebut dengan klenik. Hal ini karena penyebaran toriqot disampaikan di tempat-tempat terpencil semacam hutan, gunung, dan daerah-daerah pelosok. Hingga saat ini, istilah klenik justru identik dengan aksi perdukunan. Padahal, pada mulanya aksi ini merupakan aksi penyebaran toriqot yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Pertanyaan “Siapakah aku ini?” menjadi salah satu dasar dalam mendalami toriqot ini. ‘Aku’ yang universal bukanlah ‘aku’ dalam penegrtian sekadar jasad saja. Karena jika ‘aku’ hanyalah terbatas pada jasad maka ‘aku’ yang dulunya kecil bukanlah ‘aku’ yang sekarang sudah besar. Maka, terdapat empat pendekatan filosofis untuk memahami ‘aku’, yaitu:
1)Nanding saliro, merupakan tingkatan terendah. Pada tahap ini hanya membandingkan antara ‘aku’ dengan orang lain.
2)Ngukur saliro. Tahap ini sudah setingkat di atas nanding saliro. Pada tahap ini, upaya membandingkan ‘aku’ dengan orang lain memiliki tujuan untuk evaluasi diri sebagai pribadi.
3)Tepo saliro. Pada tahap ini ‘aku’ memposisikan orang lain sebagimana dirinya. Misalnya apabila ‘aku’ tidak mau dicubit maka orang lain pun tidak mau dicubit. Tepo saliro mengajarkan manusia untuk saling menghargai satu sama lain.
4)Muki saliro. Tahap ini merupakan tahapan yang tertinggi bila dibandingan dengan tiga tahap yang lainnya. Pada tahap ini, ‘aku’ memandang semua makhluk adalah ‘aku’ dan ‘aku’ adalah kamu. Pada tahapan yang seperti ini akan minim sekali terjadi kejahatan antar makhluk.
Cinta adalah rasa. Cinta terdiri atas cinta jasmani, cinta nafsani, dan cinta ruhani. Cinta jasmani adalah cinta karena wujud fisik yang bisa dirasakan oleh indera, misalnya halus dan kasar yang dirasakan oleh kulit. Cinta nafsani merupakan cinta yang berupa emosi, misalnya cinta, benci ataupun puas. Cinta ruhani adalah tingkatan cinta yang tertinggi, terdiri atas qalb, fud, lub, dan syir. Syir adalah tingkatan tertinggi dari yang tertinggi.
Hidup matinya sebuah hati dapat dirasakan. Disebutkan dalam Al-Quran surah Al-Anfal ayat 124 bahwa “Hai orang-orang yang beriman penuhilah panggilan Allah dan Rasulmu ketika Allah dan Rasulmu memanggil kepada yang membuatmu hidup”. Rasa sejati yang dimiliki oleh hati ialah perasaan damai. Adapun tanda bahwa hati itu hidup ialah adanya cinta tanpa syarat, cinta yang tidak pernah terselipkan perasaan jengkel terhadap yang dicintainya. Apabila lubuk hati telah hidup, maka kehadiran Tuhan dapat dirasakan. Sebuah kalimat berbahasa Jawa, “Aku iki urip, urip iki aku” menjadi salah satu tanda syirnya hidup. Kalimat tersebut bersifat universal. Cara mencintai secara universal adalah dengan kontemplasi diri dan mengenali diri sendiri.
Ada sebuah analogi antara dzikir dengan napas. Mereka mempunyai kedudukan yang sama. Napas merupakan penghubung antara jasad dengan roh, adapun dzikir merupakan penghubung antara manusia dengan Tuhan. Sehingga manusia yang tidak berdzikir seperti jasad yang tidak bernapas, alias mati.
Pemateri 2 : Syeikh Rohimuddin al-Nawawi al-Bantani
Pemateri kedua pada acara konferensi ini, memaparkan soal “Peran Ulama Tarekat dalam Membangun Cinta”. Pendidikan tasawuf selama ini terdapat dua macam. Para dai masuk ke Indonesia dibawa oleh sufi. Sedangkan pendekatan orang sufi itu sendiri ada dua, yaitu:
1)Ilmu Ilahi/Hakiki
2)Faidiyah, yang artinya memberikan warisan/limpahan
Definisi tarekat secara umum adalah madrasah yang dipimpin oleh seorang sufi ulama tarekat untuk membawa manusia sampai kepada tujuan hidupnya, yakni mengenal penciptanya. Ada dua pendekatan tarekat, yaitu pendekatan magrib dan masyrik. Inti dari pendekatan magrib adalah tarekat Jabaniyah. Adapun kedudukan tarekat dalam Islam sebagai bagian dari risalah Islam yaitu sebagai ruhnya.
Rukun Islam merupakan cara penunaian agama yang benar. Orang-orang tasawuf magrib menjelaskan ajarannya bahwa manusia ini adalah terjemahan dari Allah. Allah menciptakan dengan kasih sayang dan manusia adalah patung Allah yang tidak boleh disakiti maupun dianiaya.
Pada jaman dahulu, orang-orang berguru pada seorang guru. Orang itu hidup dan tinggal bersama gurunya dan melakukan apapun yang diperintahkan oleh gurunya. Bahkan perintah-perintah untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti membuat teh dan mencuci pakaian. Akan tetapi, output dari pendidikan semacam ini justru lebih berhasil dengan lahirnya murid-murid yang menguasai kemampuan sang guru. Hal ini karena karakter dapat diwariskan. Apabila sang guru tidak mempunyai karakter tersebut, maka tidak ada yang bisa diwariskan.
Pemateri ketiga: Prof Syukri Abdullah Yeoh
Prof Syukri Abdullah Yeoh menjabarkan soal penyebaran Islam di Nusantara. Pemaparan materi dimulai dengan penjelasan mengenai kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Nusantara. Adapun kerajaan itu meliputi kerajaan Kutai Kertanegara, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, hingga kerajaan Perlak. Islam dibawa dari tanah Arab oleh saudagar-saudagar yang menjajakan dagangannya ke Nusantara. Interaksi dengan raja-raja saat itu menghasilkan hubungan yang baik. Tak ayal terjadi pula perkawinan campuran diantara pribumi dengan pedagang-pedagang. Beberapa peninggalan sejarah tersebut antara lain ditemukannya prasasti-prasasti dan sisa-sisa puing bangunan kerajaan.
Pemateri keempat: Prof Dr. Ali Mishbah
Prof Dr. Ali Mishbah berasal dari Persia. Beliau berbicara menggunakan bahasaPersia, sehingga dalam konferensi ini dibantu oleh seorang penerjemah yang menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Prof Dr. Ali Mishbah membahas soal Irfan yang berasal dari kata Arafa yang dalam bahasa Arab artinya mengetahui atau mengenal kepada Allah SWT. Pengenalan kepada Tuhan melalui argumentasi tidak bisa disebut irfan, melainkan pengenalan ini dapat dicapai mengenai jalan zuhud. Jalan ini merupakan jalan yang paling dekat untuk mengenal Tuhan (jalan ruhaniah).
Puncak mengenali Tuhan melalui jalan ini adalah memahami Tuhan seutuhnya. Hal ini merupakan fitrah manusia untuk mengenali Tuhan melalui ciptaan-Nya. Manusia mencari Tuhan, namun jalannya keliru. Akibat dari hal ini ialah munculnya aksi-aksi radikal. Misalnya saja pada zaman primitif, karena minimnya pemahaman manusia maka manusia menyembah berhala. Dorongan untuk beribadah ini sudah baik, akan tetapi cara untuk memenuhi dorongan ini masih keliru. Kemudian, Allah menurunkan Islam melalui Rasulullah sebagai jalan lengkap supaya manusia bisa mengenal Tuhannya. Proses pengenalan Tuhan ini dilakukan dengan jalan ibadah.
Secara umum, tema konferensi ini menarik. Dapat dikatakan materi sufisme ini cukup berat. Sufisme tidak sama dengan kuliah tujuh menit ataupun ceramah-ceramah yang mengajak kepada kebaikan. Materi sufisme ini cocok diberikan untuk kaum-kaum terpelajar. Karena untuk dapat memahami sufisme diperlukan dasar agama yang cukup. Bahasan sufisme bukanlah bahasan seperti larangan pacaran, perintah berhijab, atau seruan berbakti kepada orang tua. Pemaparan materi sufisme ini merupakan salah satu jalan untuk mengajak audiens berpikir. Namun, sudah merupakan upaya yang tepat untuk mempopulerkan istilah sufisme ke ranah publik.
Komentar