Masihkah Jogja Aman dan Berhati Nyaman?

Pernahkah kamu berpikir akan suatu hari yang merupakan hari terburuk dalam hidupmu? Tunggu dulu, sebelum kamu menjatuhkan dakwaan tertentu mari cerna betul-betul apakah layak suatu hari divonis menjadi hari terburuk dalam hidupmu.

Kemarin, saya dibuat kesal oleh terik matahari ketika pukul 12 siang saya mengendarai motor saya menuju kampus. Saya hampir tidak melihat adanya bayangan saya di jalan, pertanda bahwa matahari sedang berada di atas ubun-ubun. Bukan hanya saya semestinya yang merasakan teriknya kala itu, semua orang yang mengendarai sepeda motor, sepeda, atau pejalan kaki merasakan hal yang sama.

Ada dua buah mobil berwarna hijau tentara keluar dari gang curam (saya menyebutnya demikian) ketika saya hendak memasuki gang tersebut. Sebuah van besar diikuti oleh kijang di belakangnya memenuhi ruang gang sehingga saya berpikir akan tercebur ke selokan saking sempitnya jalan saya.

Hanya beberapa detik setelahnya, ada seorang laki-laki eksibis yang sedang melakukan aksi gilanya di pinggir jalan. Saya yang sedang naik motor sontak kaget dan syok lantas saya memacu motor saya dengan kecepatan lebih tinggi untuk segera meninggalkan tempat itu. Sumpah, semumur hidup baru kali itu saya menemukan orang dengan kelainan semacam itu. Selama ini saya hanya tahu kelainan itu dari rumor yang saya dengar ataupun berita yang saya baca saja. Tapi kemarin saya benar-benar menyaksikannya dengan mata kepala saya sendiri. Orang itu benar-benar gila. Dengan rambut gimbal yang tidak pernah dikeramasi dan tubuh kotor serta pakaian lusuh, saya yakin orang itu benar-benar sudah gila.

Bukan main saya kesal kemarin. Tapi kejadian itu membuka pikiran saya, menyadarkan saya juga bahwa hal itu lumrah. Ini kota besar, beragam orang tinggal di sini. Tidak semua orang baik, tidak semua orang normal, dan kejahatan ada di mana-mana. Beruntung orang gila itu hanya seorang eksibis murni yang hanya sekedar memamerkan tanpa melakukan aksi brutal misalnya melukai korbannya. Orang itu hanya berdiri diam ketika saya melewatinya. Tidak mendekat, menyentuh, atau melakukan hal-hal menyeramkan lainnya. Tapi satu hal yang pasti, saya jadi takut melintasi jalan itu lagi, terlebih beberapa hari ke depan. Saya akan memilih jalan yang lebih jauh ketika berangkat dan pulang dari kampus. Meskipun jalan itu jalan tercepat dan ter-nggak macet, tapi daripada resikonya bertemu orang gila itu lagi..

Saya juga jadi teringat, beberapa hari yang lalu sepupu saya menjadi koran kejahatan. Ia baru saja mengambil uang dari ATM, lalu ia dipepet pengendara motor. Ia ditodong, uangnya sebanyak satu juta diambil dan handphonenya juga ikut diambil. Poor her..

Jalanan kota ini dipenuhi kejahatan rupanya. Kemarin sore juga, saya melewati perempatan Mirota Kampus. Dari jalan C. Simanjuntak arah Kopma saya belok kanan. Saya mengendarai motor saya pelan-pelan karena jalanan licin oleh hujan, dari belakang ada ibu-ibu mau lurus ke arah Karita dan nyaris menabrak saya. Tapi karena saya pelan, ibu itu sempat ngerem dan tidak terjadi apa-apa. Saya sempat deg-degan juga..  puji Tuhan Alhamdulillah saya tidak kenapa-kenapa.

Jogja sore hari memang macet. Jalanannya penuh, ramai, padat sekali. Apalagi kalau hujan.. Mobil, motor, bus, semua ingin lebih dulu tidak mau mengalah.. Saya dengan motor saya terkadang hanya bisa mlipir pelan-pelan, mengalah demi keselamatan kami.

Di beberapa perempatan sering ada rambu "Belok kiri jalan terus". Di jalan aspal pun sudah diberi garis untuk pembagian tempat orang yang berhenti untuk lurus atau belok kanan dan orang yang mau belok kiri. Seringkali, area untuk orang yang belok kiri ini dipakai berhenti oleh orang yang mau lurus. Padahal masih ada tempat di belakang supaya tidak berjubel di depan. Tapi, mungkin tidak semua orang mau menunggu terlalu lama. Akibatnya, mobil yang mau belok kiri jadi tidak bisa lewat dan ia akan menekan klakson. Saya adalah orang yang akan kaget diklakson dari belakang, apalagi oleh mobil. Nggak tau kenapa, kaget aja. Jadi saya lebih memilih berhenti di belakang daripada mengambil jatah orang yang belok kiri.

Jogja memang semrawut ya.. entah slogan "Jogja berhati nyaman" apakah masih layak disematkan pada kota gudeg ini? Mengutip Cak Nun dalam salah satu bukunya, "jalan-jalan Jogja dipenuhi oleh orang dengan beragam skill berkendara, mulai dari ibu-ibu tidak mau mengalah, anak muda tidak sabaran, hingga orang-orang yang tidak peduli, mereka semua menganggap jalan adalah milik mereka, dan orang lain harus bisa maklum," Duuh.. sabar.. sabar ya.. Belum lagi penjambretan di jalan; begal; tawuran; pencurian helm, laptop, dsb; atau kejahatan-kejahatan lainnya. Ya, kita sebagai penghuni kota bisanya hanya berhati-hati sebaik mungkin. Terkadang yang sudah berhati-hati pun juga bisa terkena musibah, namanya juga musibah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali