Mari Kembali ke Buku dan Tinggalkan Slide Anda
Beberapa semester ini aku mengamati pola belajar teman-temanku yang mayoritas menjadi slide-oriented. Sejak maraknya teknologi presentasi dan mengajar di kelas menggunakan slide power point dengan bantuan proyektor, budaya slide-oriented kian ditaati. Guru, dosen, atau presentator umumnya menggunakan slide-slide yang sudah dibuat sebelumnya untuk memudahkan presentasi. Di dalam kelas pun materi pelajaran ditayangkan dalam bentuk ini. Sisi positifnya, kegiatan jadi lebih efisien karena fokus audiens pada saat presentasi bisa didapat. Audiens pun lebih santai karena tidak perlu susah-susah mencatat.
Aku mulai mengalami era ini pada saat SMP. Untuk pertama kali aku sekolah dan mulai pakai power point. Lebih interaktif memang, dan bisa dicopy. Bisa dipelajari sendiri. SMA pun demikian dan aku merasa cara itu cukup efektif. Karena point-point yang ditayangkan hanya point-point penting untuk memudahkan proses belajar mengajar di kelas saja. Siswa masih punya buku pegangan dan LKS untuk latihan soal.
Semua kecanggihan itu berubah menyesatkan ketika kuliah. Periode awal masih mendingan karena masih terbawa atmosfer SMA. Dosen menerangkan pakai slide, dan aku giat mencari buku di perpustakaan atau mencari materi tambahan vie internet. Makin ke atas semesternya aku merasa semakin sesat -_-
Begitu menjadi mahasiswa semeser atas dan memiliki kegiatan yang semakin banyak, aku jarang menyambangi perpustakaan bahkan tidak pernah. Internet hanya dipakai buat Line sama Instagram. Kalau ada waktu luang paling stalking siapa gitu. Alhasil materi belajar hanya dari slide dosen. Padahal pola kuliah itu dosen biasanya akan membagikan slide materi ketika akan ujian saja. Jadi bayangkan saja, materi kuliah berminggu-minggu hanya dibagikan menjelang ujian dan itu pun bentuknya hanya slide. Padahal slide itu isinya hanya poin-poin saja. Jadi susah sekali untuk dipelajari.
Aku mulai mengalami era ini pada saat SMP. Untuk pertama kali aku sekolah dan mulai pakai power point. Lebih interaktif memang, dan bisa dicopy. Bisa dipelajari sendiri. SMA pun demikian dan aku merasa cara itu cukup efektif. Karena point-point yang ditayangkan hanya point-point penting untuk memudahkan proses belajar mengajar di kelas saja. Siswa masih punya buku pegangan dan LKS untuk latihan soal.
Semua kecanggihan itu berubah menyesatkan ketika kuliah. Periode awal masih mendingan karena masih terbawa atmosfer SMA. Dosen menerangkan pakai slide, dan aku giat mencari buku di perpustakaan atau mencari materi tambahan vie internet. Makin ke atas semesternya aku merasa semakin sesat -_-
Begitu menjadi mahasiswa semeser atas dan memiliki kegiatan yang semakin banyak, aku jarang menyambangi perpustakaan bahkan tidak pernah. Internet hanya dipakai buat Line sama Instagram. Kalau ada waktu luang paling stalking siapa gitu. Alhasil materi belajar hanya dari slide dosen. Padahal pola kuliah itu dosen biasanya akan membagikan slide materi ketika akan ujian saja. Jadi bayangkan saja, materi kuliah berminggu-minggu hanya dibagikan menjelang ujian dan itu pun bentuknya hanya slide. Padahal slide itu isinya hanya poin-poin saja. Jadi susah sekali untuk dipelajari.
Komentar