Kantuk, Kasur, dan Kalah

Separuh langit mendung, dan sisanya terang Entah apa yang dimau alam siang ini. Wahai penguasa langit, apakah maumu melukiskan atmosfer yang begitu kelabu siang ini? Kini tak ada lagi semburat kuning terang membelah langit. Awan kelabu kian rata menyelimuti siang. Dan aku duduk terpaku mengetik  postingan blog di dalam laboratorium. Seolah keruwetan di dalam ruang asisten tidak mengusikku untuk terus mengetik kata demi kata.

Dan, hujan.

Titik-titik air itu turun membasahi bumi. Kian lama rintiknya kian pasti. Membilas dedauan hijau. Membasahi pohon-pohon rimbun. Dan menghapus polusi udara yang telah ditimbun Jogja sedari pagi.

Wahai bumi,

Masihkah engkau ijinkan aku bersimpuh mencium aromamu? Merasakan ketujuh bagian tubuhku bersentuhan denganmu?
Kamu masih menjadi tempatku berpijak. Setiap hari aku menitimu bersama sang waktu. Berpijak di atasmu dan kaupun terus berputar. Bumi, marahkah engkau padaku?

Hei malam,

Mengapa pula engkau kian mengakrabi diriku? Berulang kali kita bersua dalam sebab yang sama. Gelapmu meledekku wahai malam. Ke mana bintangmu, bulanmu, pesonamu? Kamu tak ubahnya awan mendung yang kusam. Hitam, kelam, hanya lampu jalan yang bersahabat dengan langkahku. Bahkan aku curiga kau telah memonopoli mataku agar pulas tertidur dalam dekapmu. Hingga aku lalai dan melalaikan yang tidak boleh aku lalaikan.

Ah yaa, aku ingin menyapamu kantuk..

Bagaimana kabarmu? Baik? Sudah berapa malam kau bercokol bergelantung di kedua belah mataku. Bergelayut di bawah kelopak mata, memaksaku tertidur pulas. Sampai pagi. Akan tetapi, terimakasih atas kesetiaanmu wahai kantuk. Kudengar berita di luar sana ada orang yang rela menelan pil pahit demi mengundang hadirmu.

Hallo lelah,

Masih semangat menyetani tubuhku untuk beristirahat? Masih cukupkah amunisimu untuk memburamkan kewajiban dan tugas yang harus aku selesaikan? Bagaimana koalisimu bersama kantuk yang kudengar telah menjalin kerja sama dengan bantal, guling, kasur, kipas angin, dan rasa kenyang.

Kalian memang penjahat licik. Kalian dengan mudah melengahkanku, memaksaku kalah, dan melemaskan semua ototku untuk kemudian berlayar jauh.. jauh.. ke alam mimpi. Alam bebas di bawah kesadaranku. Alam tempatku melukis semua angan tanpa ada kekangan dari pihak manapun.

Ah, dasar kalian. Tak tahukah kalian betapa aku memiliki tugas yang harus aku selesaikan. Kenapa pula kalian bergelantungan di bawah bulu mata tak lentik ini. Menarik tubuhku bagai magnet untuk sejajar tanah. Dan rambut ini seakan menggodaku. Menari meliuk tertiup angin. Satu lagi, jangan lupa mengunci pintu kamar sebelum terlelap.

Malam,
:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali