Meramu Malam

Dua novel tebal habis dalam waktu kurang dari seminggu boleh jadi prestasi tersendiri mengingat aktivitas padat yang musti aku lakoni akhir-akhir ini. Selalu dan selalu, aku belajar dari semua ini.

Pertama, aku belajar dari seoang ibu pemimpin. Aku bertemu dengannya ketika aku hendak mencuci pakaian beberapa saat yang lalu. Kala itu aku benar-benar suntuk dan bingung hendak berbuat apa. Serasa beban pikiran membuncah dan memburamkan segalanya. Tiba-tiba kami larut dalam obrolan. Dan cerita-cerita menarik keluar dari mulut ibu itu. Aku belajar banyak darinya. Aku belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin darinya. Aku belajar bagaimana menggerakkan massa dan membagi tugas agar semua orang bisa bekerja tanpa terkeculi. Aku belajar bagaimana merangkul semua orang dari salah satu kisah yang dituturkannya. Ibu itu cerdas, dan aku banyak belajar dari obrolan itu.

Beberapa minggu yang lalu, aku sempat, lebih tepatnya menyempatkan diri untuk mampir ke toko buku bersama si bro untuk mencari buku yang sanggup mencerahkan pikiranku. Kubeli dua dengan jatah uang makan bulanan. Satu buku sedang kubaca dan sudah dapat separuh. Beberapa jam membacanya, hatiku langsung tergerak untuk membereskan kamar. Seketika kamar yang tadinya seperti kapal pecah tersulap menjadi kamar sungguhan yang sangat jauh lebih layak untuk ditempati. Satu bukunya lagi, masih dalam proses

Demikian juga dengan Ray, seorang tokoh fiksi yang kukenali bagaikan seorang teman. Aku belajar tentang sebuah kegetiran hidup darinya. Tapi darinya pula kutemukan semangat hidup, keberanian, ketangkasan, dan optimisme. Seburuk apapun masa lalu yang sudah telanjur kau coreng, tetap akan ada lembaran masa depan yang bisa kau lukis dengan indahnya. Aku jadi belajar tentang kegigihan membangun usaha. Selalu ada jalan untuk keberhasilan jika celahnya sudah mengintip walau sekecil lubang jarum.

Aku sudah beberapa kali menonon film yang menceritakan kisah Kugy dan Keenan. Tapi, baru ini aku benar-benar membaca novelnya. Benar-benar menghibur dan membuatku larut dalam segala konflik yang diracik oleh Dee. Aku hanyut dalam semua perasaan yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Bahkan aku merangkai-rangkai gambaran versiku mengenai wajah Kugy yang lebih cantik dari pemerannya di film. Aku lupa berapa hari tepatnya aku menghabiskan waktu membaca novel tebal itu. Tapi, yang jelas tak ada jeda lama antara cerita tentang Ray dengan Kugy. 

Semua itu seperti candu. Aku benar-benar meresapi setiap kata yang kubaca. Aku bahkan seperti tak peduli dengna atmosfer politik yang akhir-akhir ini lekat mendekapku. Aku tetap menjalani hariku seperti biasa. Bangun pagi dari mimpi yang luar biasa seru, pergi kuliah, belajar di kelas, mengerjakan tugas, menuntaskan kewajiban, hingga malam hari pulang ke kamar kos dan menghabiskan malam dengan kata.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali