Kembali Membaca
Hujan berjatuhan ke bumi dengan syahdu. Deras airnya menghantam atap-atap rumah warga. Dari balik kaca nako aku tertelungkup di atas ranjang busa menekan tuts keyboard dengan enam jariku. Maaf, aku tak mahir mengetik dengan sepuluh jari. Seharian aku belum keluar kos. Aku terpekur di atas kasur membaca novel dengan khusyuk. Sebuah e-book yang iseng kuunduh kemarin malam atas dasar kegabutan karena akhir pekan. Terlintas sebuah nama yang membawa jariku mengetikkannya dalam laman google. Dan cepat saja e-book pdf itu segera tampil dalam layar 12 inchi notebook cokelatku.
Sebelumnya aku tengah menonton film jepang berjudul "I Give My First Love To You". Sebuah film pemberian dari ibu kosku. Kupikir akan seru, tapi ternyata alurnya sudah bisa kutebak dari intro filmnya saja. Belum lagi scene-scene dalam film itu agak kurang sreg buatku. Jadi, aku tak lagi memiliki alasan untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun mengklik icon silang di media player dan malah menemukan e-book novel berjudul "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" karya Darwis Tere Liye. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktuku duduk lama membaca novel. Beberapa bulan terakhir pikirankku sesak dengan semua hal berbau non fiksi. Sehingga aku jadi terlalu sombong untuk sekadar meluangkan waktu demi menghidupkan kembali imajinasi kecilku.
Aku suka bahasanya. Aku suka pilihan kata yang digunakannya. Aku juga suka dengan susunan kalimatnya. Semua itu mengingatkanku pada tumpukan buku cerita lawas di perpustakaan sekolah dasarku dulu. Buku-buku yang rutin kupinjam untuk kubawa pulang. Begitulah caraku membunuh waktu kecilku. Namun, lewat buku-buku itu pula aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Mau tidak mau aku harus mengakui kalau buku-buku itu memberikan kontribusi dalam kehidupanku. Dan malam tadi, aku seperti memutar waktu. Duduk terpaku menatap layar notebook. Membaca kata demi kata, halaman demi halaman. Mengklik touchpad, menekan keyboard, dari posisi duduk hingga tidur. Hingga aku benar-benar mengatupkan mata saat subuh menjelang.
Aku menikmati setiap menit yang terlewati berteman cerita fiksi. Kedewasaan mungkin telah mengaburkan salah satu sumber bahagiaku. Mungkin aku telah berusaha menipu diri bahwa tak ada gunanya membuang waktu membaca novel fiksi. Semua itu hanya kebohongan. Dan aku pun larut dalam gelimang fakta yang hanya membuatku jenuh. Semua itu membuatku lupa bahwa ada satu ruang dalam otakku yang juga perlu diisi. Imajinasi. Aku perlu bacaan fiksi dengan diksi yang gila yang mampu menyeretku dalam ruang fantasi dan menghidupkan semua tombol imajinasi yang telah lama tidur.
Aku pun membiarkan mataku terpaku menatap layar dan membiarkan imajinasi menjalar ke mana-mana menerjemahkan setiap kata yang kubaca menjadi sebuah gambaran yang nyata dan jelas. Gambaran yang hanya bisa dilihat oleh benakku. Sebuah gambaran yang hanya bisa aku pahami sendiri. Imajinasi yang kembali hidup setelah sekian lama dipaksa tidur oleh rutinitas yang menjegal waktuku (kadang). Aku membiarkan telepon pintar itu mati kehabisan daya selama lebih dari dua belas jam. Tidak ada notif-notif yang mengusik Jumat malamku. Aku membaca dengan tenang, dengan damai. Benar-benar sejenak melepaskan diri dari segala dunia nyata yang menghadangku setiap hari. Malam tadi aku benar-benar enyah ke dalam dunia fantasi yang kuukir sendiri. Laksana mimpi, namun aku lebih leluasa merangkainya.
Aku sangat bersyukur atas segala kesempatan melepaskan penat ini. Aku bersyukur atas kuota internet yang tersedia. Aku bersyukur atas akses internet yang bisa aku nikmati. Bersyukur atas adanya notebook ini. Bersyukur atas tempat tidur nyaman yang bisa kutiduri kapan saja. Bersyukur atas kamar kos yang mampu melindungiku dari derasnya hujan di luar sana. Dan tentu saja bersyukur atas waktu luang yang memungkinkanku membaca rentetan kata-kata fiksi sebanyak 648 halaman pdf. Serta bersykur atas mata normal yang bisa membaca dan melihat tanpa bantuan kaca mata. Hidup ini begitu indah.
Sebelumnya aku tengah menonton film jepang berjudul "I Give My First Love To You". Sebuah film pemberian dari ibu kosku. Kupikir akan seru, tapi ternyata alurnya sudah bisa kutebak dari intro filmnya saja. Belum lagi scene-scene dalam film itu agak kurang sreg buatku. Jadi, aku tak lagi memiliki alasan untuk melanjutkannya. Alhasil aku pun mengklik icon silang di media player dan malah menemukan e-book novel berjudul "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" karya Darwis Tere Liye. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktuku duduk lama membaca novel. Beberapa bulan terakhir pikirankku sesak dengan semua hal berbau non fiksi. Sehingga aku jadi terlalu sombong untuk sekadar meluangkan waktu demi menghidupkan kembali imajinasi kecilku.
Aku suka bahasanya. Aku suka pilihan kata yang digunakannya. Aku juga suka dengan susunan kalimatnya. Semua itu mengingatkanku pada tumpukan buku cerita lawas di perpustakaan sekolah dasarku dulu. Buku-buku yang rutin kupinjam untuk kubawa pulang. Begitulah caraku membunuh waktu kecilku. Namun, lewat buku-buku itu pula aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Mau tidak mau aku harus mengakui kalau buku-buku itu memberikan kontribusi dalam kehidupanku. Dan malam tadi, aku seperti memutar waktu. Duduk terpaku menatap layar notebook. Membaca kata demi kata, halaman demi halaman. Mengklik touchpad, menekan keyboard, dari posisi duduk hingga tidur. Hingga aku benar-benar mengatupkan mata saat subuh menjelang.
Aku menikmati setiap menit yang terlewati berteman cerita fiksi. Kedewasaan mungkin telah mengaburkan salah satu sumber bahagiaku. Mungkin aku telah berusaha menipu diri bahwa tak ada gunanya membuang waktu membaca novel fiksi. Semua itu hanya kebohongan. Dan aku pun larut dalam gelimang fakta yang hanya membuatku jenuh. Semua itu membuatku lupa bahwa ada satu ruang dalam otakku yang juga perlu diisi. Imajinasi. Aku perlu bacaan fiksi dengan diksi yang gila yang mampu menyeretku dalam ruang fantasi dan menghidupkan semua tombol imajinasi yang telah lama tidur.
Aku pun membiarkan mataku terpaku menatap layar dan membiarkan imajinasi menjalar ke mana-mana menerjemahkan setiap kata yang kubaca menjadi sebuah gambaran yang nyata dan jelas. Gambaran yang hanya bisa dilihat oleh benakku. Sebuah gambaran yang hanya bisa aku pahami sendiri. Imajinasi yang kembali hidup setelah sekian lama dipaksa tidur oleh rutinitas yang menjegal waktuku (kadang). Aku membiarkan telepon pintar itu mati kehabisan daya selama lebih dari dua belas jam. Tidak ada notif-notif yang mengusik Jumat malamku. Aku membaca dengan tenang, dengan damai. Benar-benar sejenak melepaskan diri dari segala dunia nyata yang menghadangku setiap hari. Malam tadi aku benar-benar enyah ke dalam dunia fantasi yang kuukir sendiri. Laksana mimpi, namun aku lebih leluasa merangkainya.
Aku sangat bersyukur atas segala kesempatan melepaskan penat ini. Aku bersyukur atas kuota internet yang tersedia. Aku bersyukur atas akses internet yang bisa aku nikmati. Bersyukur atas adanya notebook ini. Bersyukur atas tempat tidur nyaman yang bisa kutiduri kapan saja. Bersyukur atas kamar kos yang mampu melindungiku dari derasnya hujan di luar sana. Dan tentu saja bersyukur atas waktu luang yang memungkinkanku membaca rentetan kata-kata fiksi sebanyak 648 halaman pdf. Serta bersykur atas mata normal yang bisa membaca dan melihat tanpa bantuan kaca mata. Hidup ini begitu indah.
Komentar