Politik Kampus
Inilah politik. Inilah realita politik di kampus dengan label kerakyatan. Inilah pola permainan politik di kampus yang katanya miniatur negeri ini. Lebih dalam lagi, inilah politik di bawah naungan akademisi penggiat bidang ilmu yang dekat dengan rakyat Indonesia. Beginilah atmosfernya. Mau tahu bagaimana rasanya? Ya, seperti ini. Ingin tahu bagaimana sensasinya berpolitik? Turunlah ke medan perang bersama kami.
Aku bukan politikus, bukan aktivis penggiat politik yang mengatasnamakan rakyat dan segala tetek bengeknya. Aku hanya bocah ingusan yang dianugerahi kesempatan langka untuk ikut terlibat di dalamnya. Aku beruntung bisa memperoleh tiket untuk duduk di bangku VIP menyaksikan para lakonnya berlaga. Bahkan, akupun diberi wewenang untuk ikutan berlaga bersama mereka. Aku memang junior, mungkin aku masih lemah. Tapi, aku tidak buta dan otakku tak bisa dibodohi. Otakku tak bisa dihentikan kinerjanya. Dia tetap bekerja tanpa pandang bulu mengolah semua informasi yang diperolehnya.
Untuk beberapa saat, ada kalanya aku tersentak. Kaget. Shock. Limbung. Mersakan dengan jelas bagaimana atmosfer ini menghantam laksana badai di lautan menghantam kapal. Laksana angin gunung menerjang pepohonan hingga batangnya meliuk-liuk. Jika tak ada akar yang kuat, batang yang kokoh, jangkar yang kuat dan kapal yang stabil, pastilah kalah menghadang badai kencang semacam ini. Sekalipun oleng, tapi jika kapalnya kuat, insyaallah tidak akan karam. Sekalipun meliuk hingga bengkong tapi jika akarnya menancap dalam dan kuat mencengkeram bumi, sebuah pohon tidak akan dengan mudahnya tumbang akibat sapuan badai.
Politik memang kejam, politik memang keras. Hanya yang kuat yang bisa menang dan bertahan. Yang lemah bersiaplah kalah. Yang lemah bersiaplah tumbang. Di sini seperti di tengah rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Kuat di sini bukan semata kuat suara ataupun pendukungnya belaka. Tetapi lebih dari itu. Dalam politik, dibutuhkan orang-orang bermental baja yang kuat hatinya. Kuat mendengar cacian yang tidak enak. Kuat melihat segala bentuk kecurangan dan kelicikan. Kuat menghadapi badai sedahsyat apapun. Kuat terhadap godaan yang melenakan prinsip. Kuat untuk tetap tegar sekalipun jiwa ini ingin menangis. Kuat menahan perih akibat segala luka hati yang muncul. Kuat pertahanan diri menahan hawa nafsu untuk marah, teriak, mengumpat, mendendam, hingga menangis.
Politik butuh orang-orang yang tegar. Tegar menghadapi segala macam cobaan. Politik butuh orang-orang yang sabar. Yang kesabarannya melampaui samudra di bumi. Politik butuh orang-orang cerdas berkepala dingin agar konflik bisa terselesaikan dengan akal bukan nafsu.
Mengelak bukan pilihan, apalagi menghindar. Satu-satunya cara untuk menjinakkannya adalah dengan menghadapinya. Ikhlas, tetap tenang, dan jangan pernah lupakan Tuhan :)
Aku bersyukur bisa ikut berlaga di dalamnya tanpa harus melalui proses casting yang ruwet. Aku bersyukur bisa jadi penonton sekaligus pemain dalam ajang bernama politik kampus.
Komentar