Menyongsong Minggu Tenang
Pilih mana, ngecamp bareng K3 atau ngawasin responsi sama anak-anak aver? Ah, itu bukan pilihan. Itu dua kegiatan yang aku suka bersama orang-orang yang sama menyenangkannya. Dan bisa jadi itu sama-sama saat ngumpul terakhir bersama mereka. Sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Tidak bisa diubah lagi karena sudah disepakati. Tapi bisa sih jika aku berangkat menyusul ngecamp setelah selesai responsi aver. Tapi tidak ikut responsi juga sebenarnya boleh-boleh saja asalkan kuota pengawasnya mencukupi. Asalkan mereka nanti aku kasih uang makan, lalu notanya terkumpul ke aku, tidak masalah juga kok aku tinggal main dengan K3. Tapi, K3 dan aver bukan untuk dibandingkan. Bukan pula untuk dipilih. Kalau bisa aku tidak ingin memilih. Aku mau dua-duanya. *dasar maruk*
Minggu tenang sudah dimulai. Kuliah terakhir hari Kamis yang lalu, aku jalani dengan sukacita. Selalu menyenangkan duduk di bangku kuliah dalam ruang kelas yang tidak terlalu luas. Mendengarkan dosen berceloteh, teman-teman berpendapat, sama-sama berdiskusi membahas dunia ikan. Sayang, dalam waktu 24 jam, hari itu aku hanya kuliah tak lebih dari dua jam. Sisanya, silakan tebak sendiri apa yang aku lakukan.
Akan ada banyak agenda untuk satu minggu ke depan. Loh, katanya minggu tenang? Jangan banyak berharap. Setenang-tenangnya minggu tenangku ya begini.
Untuk nanti malam saja sudah ada acara yang sayang dilewatkan di Fisipol. Lalu besok ada Fish Day di IMB yang tak mungkin tidak dihadiri. Dan besoknya responsi biokima, kemudian besoknya lagi responsi biologi laut, disusul responsi biologi perikanan hari Jumat, dan sorenya agenda bentrok ngecamp bareng K3 dan mengawasi responsi avertebrata air. Otomatis, baru hari Minggu aku bisa benar-benar tenang. Belum lagi jika ada agenda susulan yang menyelip diantara agenda terencana itu semua. Hidup ini... penuh agenda.
Apakah semua itu menyenangkan? Entah menyenangkan atau tidak yang jelas aku menikmatinya. Aku menikmati setiap waktu yang bergulir berteman agenda yang banyak semacam itu. Aku baru akan stress jika di sela-sela waktu kuliahku hanya diisi oleh mengerjakan tugas, laporan, belajar, sesekali bermain, dan mengerjakan pekerjaan 'rumahan'. Aku justru akan stress karena bosan. Jadi, aku lebih memilih kesibukan seperti ini ketimbang keseloan berkepanjangan.
Meski tak jarang aku juga suka iri terhadap teman-teman yang punya alokasi waktu berlebih untuk sekadar pergi bareng, nonton bareng, mengerjakan tugas bareng, belajar bareng. Ya, sometimes gue iri. Tapi, pikiran itu segera pergi jika aku sudah larut lagi dalam rapat bareng, musyawarah bareng, sidang bareng, bikin acara bareng, pulang malam bareng, makan bareng, diskusi bareng, ngasistenin bareng, ngoreksi laporan bareng, nginput nilai bareng, ngawasin pretest bareng. Bukankah itu lebih dari impas?
Ah, yang jelas, apapun yang terjadi disyukuri saja lah. Toh semua juga pasti ada plus minusnya. Tidak mungkin semua menyenangkan atau menyebalkan. Semua pasti imbang.
Lagi-lagi minggu tenang segera datang. Beragam cara dilakukna mahasiswa untuk menyambutnya. Ada yang pulang kampung, ada yang ngehedon bareng, ada yang main, ada yang mengurung diri dan benar-benar belajar, dan masih banyak lagi. Kira-kira kamu termasuk yang mana hayo?
Satu hal yang pasti terjadi, UAS. Pokoknya harga mati jika nanti UAS tidak boleh diusik. Tidak bisa diganggu gugat. Keputusan mutlak, UAS ini sepenuhnya hak prerogatifku. Waktu UAS ini sepenuhnya milikku. Bukan untuk dibagi-bagi. Mungkin tiga minggu ke depan nanti kalian akan sulit menghubungiku karena aku akan sering menyetel mode pesawat di hapeku. Bukan apa-apa. Sudah kubilang waktu UAS itu masuk hak prerogatifku :) Oke?
Komentar