Catatan Kecil dari Malioboro

Matahari bersinar tanpa kompromi. Tidak peduli ada seorang perempuan setinggi lima kaki berdiri dengan peluh menetes di pinggir jalan hendak menyeberang. Seorang abang becak menawarkan tumpangan namun ditolaknya. Dia tidak ingin pergi jauh. Hanya ke bank seberang jalan untuk ambil uang di mesin ATM. Sepatu hitamnya beradu dengan aspal abu-abu. Teriknya hari menyilaukan matanya. Ruangan itu dijaga seorang satpam. Terlihat beberapa orang sibuk berkutat menekan tombol di mesin uang itu. Dia pun menghampiri satu mesin ATM yang kosong. Di sampingnya ada seorang ibu tengah berkutat dengan lembaran-lembaran yang tidak tahu apa isinya. Buru-buru dialihkan lagi fokusnya. Setelah beberapa lembar uang kertas keluar dari mesin ATM, dia meninggalkan ruangan ber-AC itu. 

~ 8 ~

Bus itu penuh. Tidak ada bangku kosong yang bisa diduduki. Aku bediri di dekat pintu. Berpegangan pada tiang besi. Berusaha menjaga keseimbangan ketika tiba-tiba bus membelok dan mengerem. Di halte berikutnya bus berhenti. Beberapa penumpang turun. Sesaat banyak bangku kosong. Sebuah bangku terdekat denganku buru-buru diserobot oleh cewek yang sedari tadi juga berdiri. Aku menatapnya nanar. Tiba-tiba seorang ibu menatapku. Bangku di sampingnya kosong. Seakan mampu membaca kode, aku langsung duduk di situ. Aku menoleh ke belakang. Teman-temanku masih berdiri. Aku beruntung bisa duduk di sisa perjalanan. 

Ibu yang tadi menawariku bangku tiba-tiba berceloteh. Pak supir berusaha menggapi sebisanya. Aku hanya diam mendengarkan obrolan mereka. Ibu itu bersama anak laki-lakinya yang kira-kira masih kelas satu SD. Awalnya aku tidak tertarik dan mengalihkan pandangan. Tapi, obrolan mereka tetap saja berlangsung dan memaksa telingaku untuk tidak bisa cuek.

Ternyata anaknya sakit. Entah apa nama penyakitnya. Aku hanya menangkap jika dia kelebihan sistem imun. Akibatnya pigmen kulitnya digerogoti imun. Anak itu kurus. Sekilas aku meliriknya. Di sela-sela jarinya tampak area berwarna putih. Seperti tak berpigmen. Dan sepertinya memang begitu. Dari celotehnya aku dengar, mereka sedang terapi. Dan ibu itu berkeluh bahwa dalam satu minggu harus merogoh kocek sebanyak enam juta rupiah untuk terapi laser anaknya. Dia juga cerita, belum lama baru saja anaknya itu menjalani operasi mata di rumah sakit mata Dokter Yap. Ada tahi lalat di bagian hitam matanya. Dia bilang anak bungsunya ini paling mahal. Itu juga masih ditambah ambeyen yang diderita anaknya. 

Ibu itu adalah seorang perawat lansia yang bertemu suaminya karena profesi. Dia pernah merawat keluarga suaminya. Tak disangka malah bertemu jodoh. Anaknya tiga. Yang dibawa itu merupakan bungsu. Pamannya yang membantu biaya pengobatan anak itu. Semua penumpang hanya diam. Entah mendengarkan, entah tidur. Entah menghayati, entah mengabaikan. Aku sempat ingin bertanya tapi kuurungkan niat itu. Takut dikira sok akrab. Hidup di zaman ini, banyak bertanya malah dibilang kepo. Anak itu tidak boleh kena matahari. Harus diproteksi. 

Aku tidak tahu harus berekasi bagaimana. Harus berkomentar apa. Tidak tahu. Aku hanya tahu, ternyata hidup bersama penyakit itu mahal. Halte selanjunya membuat bus jadi penuh sesak. Seorang bertubuh tambun berdiri di dekatku. Berpegangan pada tiang dekat langit-langit. Seketika aroma kecut tercium oleh hidungku. Refleks, aku menutup hidung dengan kain jilbab. Beruntung, kulihat tiga temanku turun di halte berikutnya. Dengan sigap menyalip orang-orang, aku mengekor mereka. Meninggalkan ibu itu dan anak bungsunya.

~ 8 ~

Aku memberi komando agar ketiga temanku belok masuk ke toko Al-Fath. Seorang menggerutu. Kenapa tidak sholat di sana saja? Aku tersenyum kecut, dalam hati. Percayalah. Aku sudah berulang kali menyusuri jalan ini. Aku sudah pernah ke sana. Dan, sekali lagi tolong percayalah. Mushola di sana bukanlah tempat yang nyaman untuk menunaikan ibadah sholat. Bukan hanya pengap. Tapi kotor dan bau bercampur jadi satu. Sumpek. Itu yang paling kuingat. Dan, sekali lagi percayalah padaku. Aku pernah menyusuri sepanjang jalan ini mencari tempat ibadah dan hanya toko ini yang memiliki mushola. Mushola yang layak untuk dijadikan tempat sholat. Bersih, nyaman, dan dingin. Kali ini, coba tolong percayalah. Tak usah gusar perihal kehadiran kita yang hanya menumpang sholat. Tak perlu minder jika memang tidak ingin membeli apa-apa. Toh, penjaga toko sudah maklum dengan orang-orang yang berseliweran menumpang sholat di sini. Seorang lagi berceletuk, yasudah sekalian ngadem. 

Pasar ini masih penuh. Tak ubahnya seperti terakhir kali aku mengunjunginya dengan ibu kos. Kali ini aku datang dengan tujuan lain. Menemani teman belanja. Beberapa kios kain didatangi. Aku membunuh waktu dengan belajar bioper. Jumat besok ada responsi, dan pengumuman nilai limno di kampus tadi membuatku bertekad untuk menyiapkan responsi bioper lebih baik lagi. Tidak peduli di pasar, bersandar tumpukan kain, aku cuek membuka slide-slide di hape. Berusaha mengingat dan memahami materi praktikum yang sudah berlalu. Urusan kain beres. Kami keluar dari area pasar. Berjalan lagi menyusuri trotoar yang disesaki penjaja apa saja. 

Entah angin apa yang berhembus, aku menghentikan langkah di depan penjual karet. Maksudku karet yang melingkari hape. Yang di atasnya ada kuping kelici, beruang, atau bentuk lain. Entah angin apa lagi yang berhembus, aku merogoh kocek mencari uang lima belas ribu dan melakukan transaksi untuk barang aneh itu. Sekejap, aku tidak percaya hapeku yang cupu dilingkari benda aneh itu. Dan saat itu juga aku berkata dalam hati berkali-kali, ini bukan aku, ini bukan aku, ini bukan aku. Langsung aku masukkan hape bercuping itu ke dalam tas. Aneh.

~ 8 ~

Memasuki department store, langsung tercium bau enak J.CO. Hmmm. Berusaha cuek bebek, kami mencari eskalator ke lantai dasar. Langsung masuk Hero, cari air putih dingin. Kami luar biasa haus. Aku mengajak kedua temanku duduk di depan Solaria. Emang boleh kik duduk di situ. Memang siapa yang berani melarang? Aku terkekeh. Tak, lama seorang lagi yang habis dari toilet menghampiri kami bertiga. Setelah membiarkan sepasang kaki ngaso, kami melangkah masuk Gramedia. Beberapa waktu lalu, aku berkutat mencari sebuah buku di Gramedia dekat kampus. Dan hasilnya nihil. Di situ aku kembali mencari. Menelusuri rak demi rak. Memelototi judul demi judul. Hingga bolak-balik mengetikkan judulnya di komputer tapi tetap saja tidak ketemu. Kami menyerah dan akhirnya naik. Eskalator demi eskalator kami lalui. Hingga tibalah kami di lantai paling atas. Memesan minuman dan duduk. 

Aku merogoh tas, mencari hape. Ada kabar mengejutkan rupanya. Aku merogoh tas lagi. Kali ini mengeluarkan sebuah binder. Buset, mau belajar lagi kik. Tidak, aku menorehkan sesuatu di salah satu halaman catatan kuliah. Memotretnya, cekrek. Lalu mengirimkan gambar itu via Line. Sudah hampir pukul empat. Aku mengajak mereka turun. Salah seorang protes. Ah, masak udah sampai atas sini mau turun lagi ke bawah. Entah ada angin apa, bisa-bisanya aku berceletuk, lebih baik mana turun ke bawah sekarang atau nanti dilempar ke neraka paling bawah. Tebak sendiri apa reaksi mereka. Tapi ujung-ujungnya kami turun juga. Setelah menunaikan kewajiban, kami keluar dari pusat perbelanjaan itu. Hujan mengguyur Jogja, lagi. Kilat menyala-menyala di tengah langit senja kelabu. Tak lama, gemuruh petir mengekor di belakangnya. Kami terdiam di tangga pintu masuk mall. 

Aku berhenti, lebih tepatnya dihentikan oleh seorang SPG bakpia. Ketiga temanku sudah berjalan duluan di depan. Seperti dicegat, aku tak bisa lari. Perempuan itu membawa nampan berisi tester. Akhirnya, sedikit berbasa-basi aku melontarkan pertanyaan. SPG itu bolak-balik ke stand mencari konfirmasi teman-temannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku bertingkah seolah hendak memborong bakpia mereka sungguhan. Hingga SPG itu mengucapkan terimakasih dan membekaliku dengan brosur lengkap dagangan mereka. Berhasil kabur. Kami naik lagi, nongkrong, bikin video, ketawa ketiwi. Sekali-kali, boleh lah.

Jelang magrib kami turun. Kali ini benar-benar turun. Meninggalkan hiruk pikuk manusia-manusia hedon.

~ 8 ~

Masjid ini punya nama, Sulthoni. Modelnya sangat joglo. Hanya ada tiang-tiang dan lantai yang menghampar. Boleh kubilang, mirip sanggar, atau pendopo (?). Magrib isyak kami habiskan di tempat ini. Lagi-lagi, belajar bioper. Tapi kali ini aku berhasil menyeret mereka ikut, mau tak mau. Untuk mendengarkan, mau tak mau. Untuk nimbrung, mau tak mau. Masjid sunyi senyap selepas jamaah isyak kembali ke rumahnya masing-masing. Tinggal kami berempat. Perut keroncongan meronta-ronta. Kami memasuki restoran yang tadi tadi siang kami sambangi. Rupanya kami pembeli terakhir. Rolling door sudah ditutup setelah kami selesai makan. 

Destinasi terakhir kami, sekaten. Pasar malam lebih tepatnya. Kanan kiri orang berjualan. Kios-kios pakaian, mainan, makanan. Dianungi tenda terpal mereka mencari rejeki. Lebih jauh masuk, aneka mainan pasar malam menyambut kami. Bianglala, kora-kora, komedi putar, rumah hantu, tong setan, bom-bom car, dan satu lagi aku tidak tahu namanya. Setahun lalu menjadi saat terakhir naik wahana pasar malam, bianglala. Jangan suruh aku naik kora-kora. Demi apapun, aku tidak mau. Pertama, alasan safety. Tidak ada sabuk pengaman. Mas-mas di bawah dengan serta merta memainkan kora-kora. Perahu itu melambung seperti ayunan raksasa. Sesekali terompet kapal berbunyi memekakkan telinga. Melihatnya saja sudah ngeri. Belum lagi, berita yang pernah menyebar tentang kecelakaan wahana pasar malam. Rasanya cukup untuk jadi alasan menolak. Alasan kedua, urusan perut. Delapan ribu rupiah lebih rela aku tukar dengan sebungkus nasi daripada duduk manis di dalam bianglala.

Pukul sepuluh malam. Aku berjalan mengekor di belakang ketiga temanku. Sembari menempelkan hape ke telinga. Mencari manusia swadudu yang masih melek. Bisa tidur di luar kalau tidak ada yang membukakan pintu. Kami tidak bisa minta tolong ibu kos, karena ada penyelundupan yang akan kami lakukan. Kami harus kongkalikong dengan orang dalam. Di tengah-tengah ketidakjelasan itu aku setengah menggerutu meminta mereka ikut berpikir juga. Tiba-tiba mataku menangkap satu sampul buku yang tidak asing. Aku menghentikan langkah dan juga memberi komando agar mereka berhenti. Transaksi berlangsung, buku iu sukses masuk ke dalam tasku. Buku yang membuatku menggeledah Gramedia siang tadi. Buku yang beberapa hari ini kucari e-booknya tapi tidak ketemu. Dan kutemukan di kios buku di pinggir jalan. Setelah itu kami duduk. Menunggu balasan. Berhasil! Satu orang masih bangun dan mau membukakan pintu.

Sekarang kami dihampiri supir taxi. Ralat, aku dihampiri supir taxi karena setelah menoleh ketiga temanku sudah membuat jarak satu meter lebih di belakangku. Oke, lagi-lagi jadi tumbal. Negosiasi berlangsung. Dan kami pulang dengan selamat.

~ 8 ~

Sebuah ironi menghantui pikiranku. Bagimana bisa? Kok bisa sih? Tapi inilah faktanya. Fakta yang aku rasakan seharian. Dan sukses mengusik pikiranku. Bagaimana bisa Allah lebih dekat di Malioboro daripada di Swakarya?

Komentar

Astri Ekaputri mengatakan…
great :) follow each othher yukkk ekaputriastrie.blogspot.com
Putri Eky Pratiwi mengatakan…
thank you :)
shaaappp

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali