Oleh-oleh Blogwalking
Demi mengais secercah inspirasi aku rela melakukan blogwalking one by one dari blog orang-orang keren atau yang kuanggap keren. Akhir-akhir ini sulit menemukan blogger aktif yang berasal dari kalangan terdekat (baca: teman). Entah, mungkin terlalu sibuk atau sudah tidak hits lagi. Padahal, selalu ada nilai plus (di mataku) atas blogger-blogger setia yang mau membagikan pengalamannya. Aku tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikannya, yang jelas blogger-blogger aktif memiliki nilai tambah di mataku.
Karena dari tulisannya aku bisa stalking habis-habisan tentang kehidupannya, salah satu media pemuas rasa ingin tahu. Dari tulisannya pula aku bisa menganalisa dia ini orangnya seperti apa, bagaimana pemikirannya, bagaimana karakternya, bagaimana kesehariannya, hingga latar belakang dan kronologis hidupnya. Hati-hati, aku stalker ulung. Tapi, dari situlah aku bisa belajar darinya. Dari postingannya aku jadi belajar dan mendapat pencerahan. Bahkan, tak jarang inspirasi dan ilmu baru berdatangan setelah aku melakukan blogwalking.
Misalnya saja kemarin sore. Aku menemukan blog kakak tingkatku. Dia ini orangnya taat beragama. Dia juga aktivis dan super sibuk. Dari semester satu saja dia sudah memiliki setumpuk agenda yang tak jarang bertabrakan. Dari salah satu tulisannya aku mendapat kisah begini,
"Ada seorang pengamen yang suaranya jelek, caranya bermain alat musik sungguh asal-asalan. Setiap kali dia mengamen, dia mampu memperoleh uang dengan cepat karena orang-orang tidak tahan menyaksikan penampilannya. Uang lima ratus hingga seribu rupiah cepat mengisi kalengnya. Dia pun senang. Lain lagi dengan kisah pengamen kedua. Dia ini bersuara merdu, caranya bermain gitar pun baik sekali. Setiap kali dia mengamen, orang-orang menikmati penampilannya. Akibatnya, ia harus menyanyikan beberapa buah lagu dulu baru orang-orang mau merogoh kocek untuknya. Sekalipun ia harus mengamen lebih lama, uang yang ia dapat bisa mencapai sepuluh hingga dua puluh ribu sekali mengamen.
Kisah dua orang pengamen di atas dapat dianalogikan dengan dua orang hamba Tuhan. Seorang hamba adalah hamba yang asal-asalan menjalankan perintah agama, namun apapun yang dipanjatkannya dalam doa selalu dikabulkan Tuhan dengan cepat. Hamba kedua adalah hamba yang taat sekali beragama. Jika ia memiliki keinginan, ia pun rela berlama-lama dalam doa, namun Tuhan seakan enggan mengabulkan doanya. Tidak seperti hamba pertama.
Mudahnya, hamba pertama seperti pengamen pertama dan hamba kedua seperti pengamen kedua. Mungkin Tuhan enggan melihat hamba pertama berlama-lama mendekatinya jadi Dia segera memberi apa yang hambaNya mau. Dan mungkin, Tuhan terlalu cinta pada hamba kedua, sehingga Dia ingin berlama-lama melihat hambaNya memohon dan mendekat kepadanya.
Inti dari cerita itu adalah hendaknya kita senantiasa berprasangka baik kepada Tuhan, terutama jika doa-doa kita belum dikabulkan, bisa jadi kita termasuk hamba kedua yang disayang Tuhan dan Dia sudah merencanakan hal yang lebih baik dari doa kita sendiri."
Indah bukan pelajarannya? Sayangnya si pemilik blog tersebut terakhir posting bulan Mei tahun lalu. Sudah lama sekali ya. Dan mungkin si pemilik blog juga sedang disibukkan oleh beragam aktivitasnya yang padat merayap. Hehehe..
Lalu ada blogger kedua, kakak tingkat sendiri di jurusan yang sama. Saat ini sedang melakukan exchange program ke Thailand. Jadi, hasil blogwalking itu berujung pada chatting yang membolehkanku untuk bertanya-tanya. Kurang lebih, begini hasil tanya jawabku dengan kak Nicol :)
E: Kak Nicol, itu programnya gimana sih? Kalo nggak salah itu namanya AIMS Program ya, jadi itu proses seleksinya gimana ya kak?
N: Iya. Programnya AAIMS itu untuk pertukaran antar negara Indonesia, Thailand, Jepang, Malaysia, Vietnam, Filipina. Nah untuk ikutan progranya nanti ada seleksi dari kampus. Syaratnya IPK, TOEFL, sama isi formulir aja terus ada wawancaranya pakai bahasa Inggris. Dan dari awal kalian harus pilih mau ke negara apa dan universitasnya apa.
E: Lebih spesifik lagi, pihak kampus yang nyeleksi itu siapa kak? IPK sama TOEFL nilai minimumnya berapa kak?
N: Yang nyeleksi ada ibu Ani dari HPT, pak Maruf dari jurusan Tanah, sama pak Suadi dari Perikanan. IPK minimla 3,25 terus TOEFLnya minimal 500.
E: Itu biasanya tanggal berapa kak gembar gembornya? Kira-kira persiapan apa yang bisa dilakuin mulai sekarang? Btw, kemarin yang daftar banyak nggak kak?
N: Mulai coba TOEFL prediction aja buat kira-kira hasil TOEFLnya, kalo udah dapet 500 ke atas baru ambil tes TOEFL yang beneran. Terus udah sebenernya itu aja practice English. Biasanya bulan April deh itu mulai dibuka seleksinya. Kalo taun lalu infonya kurang terpublikasi. Kemaren sekitar 20an doang soalnya infonya kurang terpublikasi.
E: Kira-kira ada perubahan syarat nggak ya kak terkait nilai minimum untuk IPK dan TOEFL?
N: Mungkin nggak berubah deh kalo tahun depan. Batas minimal TOEFL dari fakultas saja 500, kalo dari Dikti malah cuma 450.
E: Oiya, terkait biaya program ini tu termasuk beasiswa atau gimana kak?
N: Beasiswa. Dapetnya 28 juta untuk satu semester, termasuk pesawat pp dan living cost. Kalo Jepang dapetnya 40 juta karena living costnya tinggi. Jadi nggak perlu ngeluarin biaya sendiri.
E: Oiya kak, kan ini kak Nicol exchange semester 7, kalo entar pas pulang ke UGM lagi di sini perlu ngulang semester 7 lagi atau udah dianggap semester 7 di sana dan sini tinggal nerusin?
N: Oh, kalo saya karena udah nyelesain mata kuliah wajib dan pilihan sampai semester 6 jadi saya nggak perlu nambah 1 semester lagi di UGM. Nah, kalo kamu exchangenya pas semester 5, kan masih ada tanggungan mata kuliah tuh maka nanti kamu akan ngulang semseter 5nya. Tapi beberapa mata kuliah yang diambil di negara exchangenya bisa ditransfer sks-nya. Dulu kuliahnya dari semester 1 udah ngebut Eky, narik-narik mata kuliah semester atas mulu. Haha..
E: Rahasia kak Nicol apa sih biar bisa ngejar makul semester atas dan ipk nya tetap keren?
N: Waduuh, gimana ya. Saya jarang masuk kelas wkwk penting UTS, UAS, dan tugasnya sih. Terus mau ga masuk juga yang penting catetang nyatet sendiriii, cari info sampe ngerti gitu. Belajar bareng temen, tapi kamunya yang yang ngajarin, itu bikin makin ngerti dan inget. Mau minjem catetan temen juga nggak apa-apa tapi dicatet ulang sendiri, sambil dingertiin setiap yang dicatatet ulang gitu
Begitulah kurang lebih hasil wawancara via Line sama kak Nicol. Di akhir wawancara jadi ingat Shima. Soalnya, Shima pernah menulis di cover bindernya, "Ilmu diikat dengan mencatat" dan teringat catatan kuliahku selama ini kayak apa bentuknya. *tepok jidat* Super sekali kak Nicol. Semoga semangatnya nular ke adek-adek tingkatnya. Dan nggak hanya semangatnya aja yang nular, tapi pinternya juga. Aamiin.. Keren deh kak Nicol !
Belum selesai sampai di sini. Hari ini juga aku dapat komentar yang cukup serius terkait tulisanku di blog. Dari teman sendiri memang, via BBM, begini katanya, "Tata bahasanya diperhatikan lagi, diminimalisir ke-typo-annya, jika ada bahasa yang tidak baku mohon ditulis miring, overall mantaab" Hahaha.. tengkyuh gan atas komentar mendidiknya. Jujur, aku mengakui kekacauan bahasaku, dan ketypoan yang sudah di ambang batas. Untuk postingan selanjutnya, pasti jadi perhatian sebelum dipublikasi. Salut!
Komentar